Kacamata Makna

May 31st, 2008 by uda-havid

Sahabat…

Saya ingin menginfokan kalau blog ini kedepannya hanya akan dikhususkan untuk review buku, film, dan musik. Sedangkan untuk ide dan coretan saya yang lain akan saya tempatkan di blog saya yang lain di:

http://kacamatamakna.blogspot.com/

Freedom Writer, Kisah tentang manusia biasa yang cukup inspiratif

May 31st, 2008 by uda-havid

Freedom_writers
Secara
tidak saya sadari, saya ternyata pernah mengutip tulisan mengenai
tokoh wanita dalam film yang akan saya tulis reviewnya  dalam blog
ini
. Kisah dalam film ini sendiri dimulai ketika Erin Gruwell memulai
karirnya sebagai guru di Wilson High School, Long Beach
California
. Sebagai seorang fresh graduate, Erin sangatlah
antusias ketika akan memulai karirnya sebagai guru di sekolah
tersebut. Akan tetapi ketika ia benar-benar memulai mengajar di kelas
203, ia sempat terkejut dengan keadaan kelasnya. Ternyata kelasnya
adalah tempat berkumpulnya ‘orang-orang buangan’.

 

Murid-muridnya
dikelas ini sudah terbiasa hidup dalam kelompoknya masing-masing,
memiliki latar belakang yang bermacam-macam dan rentan terhadap
kekerasan. Mereka sudah terbiasa terlibat dalam pertikaian antar geng
dan tidak sedikit  dari mereka yang selalu menyimpan pistol dalam
pinggang mereka karena merasa kalau hidup mereka tidak aman.

Awalnya
Erin mencoba mengajar dengan menggunakan metode kurikulum
‘konvensional’. Akan tetapi karena murid-murid yang dihadapi Erin
bukanlah murid seperti pada umumnya, maka cara konvensional tersebut
seperti menemui jalan buntu. Akan tetapi Erin tidak berhenti sampai
disitu, sadar kalau cara konvensional tidak akan berhasil diterapkan
dikelasnya, Erin pun mulai mencoba berbagai kurikulum alternatif
ciptaannya sendiri. Ia memulainya dengan mencoba mengajarkan puisi
dengan menggunakan lagu Tupac Shakur, akan tetapi sayang, usaha
alternatifnya ternyata belum cukup berhasil.

Akan
tetapi Erin, tidak pernah menyerah dan selalu mencari cara baru.
Hingga akhirnya ia menemukan suatu permainan yang disebut permainan
garis (line games) dengan menarik sebuah
garis merah di lantai, membagi mereka dalam dua kelompok
kiri
dan kanan. Kalau menjawab
ya
mereka harus mendekati garis. Dimulai dengan beberapa pertanyaan
ringan, dari album musik kesayangan, sampai keanggotaan geng,
kepemilikan narkoba, dan pernah dipenjara atau ada teman yang mati
akibat kekerasan antargeng.
Dalam permainan ini, Erin ternyata
berhasil membuat murid-muridnya merasa kalau mereka ternyata memiliki
kesamaan nasib.

Selanjutnya
Erin menghadiahi murid-muridnya sebuah buku yang diberi judul ‘Anne
Frank: The Diary of a Young Girl’
yang merupakan saksi sejarah dari
kekejaman Nazi. Erin juga tidak lupa mewanti-wanti muridnya kalau
rasialisme lah yang sering memicu tragedi kemanusiaan. Selanjutnya
dalam kesempatan lain, Erin juga memberikan buku kosong kepada
murid-muridnya yang dapat digunakan untuk menuliskan semua keluh
kesah mereka yang mereka alami dan rasakan. Erin akan memeriksa dan
memastikan mereka benar-benar menulis setiap harinya, akan tetapi ia
tidak akan membacanya kecuali jika diijinkan oleh murid-muridnya.
Untuk itu disediakanlah sebuah lemari kosong kepada mereka, jika
mereka mengijinkan Erin untuk membaca buku hariannya.

Awalnya
Erin tidak begitu menyangka kalau murid-muridnya akan antusias dalam
menerima ‘tugas’ menulis buku harian yang ia berikan. Akan tetapi
alangkah terkejutnya Erin, ketika pada suatu hari ia mendapatkan
lemari kosong yang disediakannya penuh dengan buku catatan harian
murid-muridnya. Erin kemudian mulai membaca catatan harian
murid-muridnya dan mulai memahami latar belakang setiap
murid-muridnya. Dan para murid Erin semakin terinspirasi, semakin
terbuka, dan semakin bisa menerima keberadaan teman-teman mereka.
Mereka merasa menemukan ‘keluarga’ baru dalam hidup mereka.
Mereka pun berubah menjadi lebih baik lagi dan mulai menjadi agen
perubahan terhadap lingkungan mereka.

Tulisan
mereka kemudian disatukan dalam sebuah buku dan diberi judul ‘The
Freedom Writer Diary
’ pada tahun 1999 dan memberikan inspirasi ke
banyak orang. Beberapa tahun kemudian, FreedomWriters menjadi sebuah
organisasi untuk mengembangkan metode pengajaran dan pendidikan untuk
semua golongan.


Sebagai
seorang ‘tokoh’ pendidikan, Erin Gruwell sungguhlah inspiratif.
Ia tidak menyerah kepada keadaan dan selalu berpikir ‘out of the
box
’ dengan menerapkan berbagai macam alternatif untuk keberhasilan
anak didiknya. Meskipun untuk itu ia harus dilecehkan oleh teman
sesama pengajar, bekerja paruh waktu, dan tidak mendapatkan dukungan
dari sekolahnya. Akan tetapi ia tetap maju karena meyakini kalau apa
yang ia lakukan adalah yang terbaik untuk murid-muridnya.

Akan
tetapi, Erin tetaplah manusia biasa yang tak luput dari kekurangan.
Yang karena kesibukannya menyebabkan ia harus mengorbankan mahligai
pernikahannya dengan suaminya yang tidak tahan karena harus ditinggal
Erin sepanjang waktu. Jujur saja, sebagai manusia yang mengedepankan
keseimbangan, gambaran dari retaknya mahligai rumah tangga Erin
menurut saya adalah suatu hal yang sangat disayangkan.

Meskipun
begitu, secara keseluruhan film ini sangat bagus dan inspiratif. Film
ini mengajarkan kita untuk selalu optimis dan jangan pernah menyerah
dengan keadaan. Film ini ini juga mengajarkan untuk meyakini kalau
perbuatan baik kita akan memberikan inspirasi bagi orang lain dan
masa-masa sulit adalah awal dari suatu yang indah jika kita tidak
menyerah. Seperti yang dikatakan Kartini…’Habis Gelap Terbitlah
Terang’ atau seperti kata salah satu tokoh yang dikisahkan dalam
film ini Anne Frank ‘Penderitaan dan luka ada di mana-mana; namun
demikian pun harapan, juga ada di mana-mana’…

Kasih Sayang Ibu Dalam Daniel Isn’t Talking

October 22nd, 2007 by uda-havid

Daniel_isnt_talking
Kasih
ibu kepada beta | Tak terhingga sepanjang masa | Hanya memberi tak
harap kembali | Bagai sang surya menyinari dunia….

Jujur
saja, saya teringat dengan lagu diatas ketika membaca Daniel Isn’t
Talking karya Marti Leimbach. Buku yang menurut saya benar-benar
menarik untuk dibaca.

Dikisahkan
Melanie Marsh dan Stephen adalah pasangan yang hidup secara normal
dan memiliki 2 anak yang lucu. Anak tertua mereka bernama Emily yang
merupakan anak yang cerdas, kreatif, dan aktif. Anak terkecil mereka
bernama Daniel yang merupakan anak yang pendiam dan tidak banyak
bicara. Hidup mereka berjalan dengan normal layaknya kehidupan
keluarga pada umumnya.

Akan
tetapi ketika Daniel berumur 3 tahun masalah kemudian muncul. Anak
laki-laki mereka ternyata masih belum bisa bicara!! Suatu hal yang
tidak normal untuk anak seumur Daniel… Stephen dan Melanie awalnya
hanya mengira masalah ini hanyalah masalah ’keterlambatan
berbicara’ saja. Akan tetapi ternyata dugaan mereka salah, Daniel
memiliki masalah yang lebih serius daripada ’keterlambatan
berbicara’, Daniel ternyata menderita Autis!!

Penyakit
yang diderita Daniel ini membuat rumah tangga orang tuanya menjadi
bergejolak. Mereka menjadi sering cek-cok karena berbeda pendapat.
Sang ayah, Stephen, meyakini kalau Daniel harus disekolahkan di
’sekolah khusus’, sementara sang ibu, Melanie, meyakini kalau
Daniel tidak perlu ke’sekolah khusus’ dengan alasan ’sekolah
khusus’ tidak dapat mengajarkan Daniel menjadi anak ’normal’
karena Daniel hanya akan bermain dengan sesama anak autis di sekolah
tersebut. Melanie berkeyakinan kalau Daniel bisa disembuhkan tanpa
perlu pergi ke ’sekolah khusus’.

Perbedaan
ini membuat perkawinan mereka terancam bubar. Stephen yang berkeras
untuk menyekolahkan Daniel ke ’sekolah khusus’ semakin jarang
pulang kerumah karena tidak tahan melihat tingkah laku Daniel, hingga
akhirnya ia kembali ke pelukan mantan pacarnya. Sedangkan Melanie
mempertahankan untuk tidak menyekolahkan Daniel ke ’sekolah
khusus’, agar kelak Daniel dapat menjadi anak yang normal. Ia
melakukan segalanya agar Daniel bisa menjadi anak normal, mulai dari
mencari info tentang autis hingga menjual harta yang dimilikinya
untuk kesembuhan Daniel karena Stephen sudah tidak mengirimi uang ke
rekeningnya.

Melanie
sudah mencoba membawa Daniel ke berbagai ahli Autis, akan tetapi
ternyata hasilnya masih jauh dari harapan, hingga akhirnya ia bertemu
dengan Andy O’ Connor, yang dikenal sebagai ahli terapi autis untuk
anak-anak. Beberapa orang mencoba menyakinkan Melanie, kalau Andy
hanyalah penipu ulung yang bayarannya mahal dan tidak memiliki
kompetensi. Akan tetapi Melanie meyakini kalau Andy adalah sosok yang
tepat.

Andy
kemudian mendidik Daniel di rumah dan menerapkan metode ABA (
Applied
Behavioral Analysis
)
dengan mengajak Daniel bermain dan dengan sabar mulai mengajari
Daniel. Andy ternyata sosok yang benar-benar dapat diandalkan
Melanie. Ia bukan hanya berhasil membuat Daniel mengalami kemajuan
linguistik akan tetapi ia juga berhasil membangkitkan Melanie dari
keputus-asaan. Simak bagaimana Andy mencoba membuat Melanie agar
tetap tegar dalam kalimat ini:

"You’re
an autism mum. I see them all the time. I saw you that first day we
met, how you agonised over your boy, mute in his pushchair while all
the other pre-schoolers made their clever observations about the
world; I see how you worry now over his odd way of walking, the
animal noises he will sometimes make instead of words. And I see how
no amount of pain in the experience of caring for your son will put
to death the fire of love you have for him."

Dalam
buku ini, anda akan melihat pengorbanan tulus seorang ibu untuk
anaknya.
Ia
akan melakukan apa saja untuk kesembuhan anaknya. Saya yakin anda
akan tersentuh dan terharu membaca perjuangan yang dilakukan Melanie
untuk Daniel yang mungkin juga akan mengingatkan anda betapa orang
tua anda telah melakukan yang terbaik yang bisa mereka lakukan untuk
anda.

Buku
ini
juga
memberikan gambaran yang menarik mengenai Autis. Kita diajak untuk
memahami seluk beluk Autis, bagaimana cara menghadapinya dan
menanganinya. Dan meskipun penyakit ini tidak bisa disembuhkan akan
tetapi kita tetap dapat membuat penderita Autis menjadi seperti anak
normal karena meskipun mereka ’memiliki dunia sendiri’ mereka
juga manusia yang perlu dihargai dan diperlakukan secara normal.

Jika
kita membaca biografi Marti Leimbach, mungkin kita akan mereka-reka
kalau sebagian cerita dari Daniel Isn’t Talking diilhami dari
kehidupan pribadinya. Karena putra dari Marti Leimbach yang bernama
Nicholas juga didiagnosa menderita Autis seperti Daniel.

Dan
terakhir, b
uku
ini benar-benar menyajikan kisah menggugah, realistis, dan sangat
menarik untuk dibaca. Benar-benar buku yang layak untuk dikoleksi…

*Klik disini jika anda ingin melihat chapter pertama dari Daniel Isn’t Talking. Jika anda ingin membaca cerita lain mengenai anak autis dalam bentuk cerpen yang sangat menggugah, anda dapat mengklik link ini

Generasi Simpson Episode 2???

October 6th, 2007 by uda-havid

Dalam sebuah
penelitian yang dilakukan oleh banyak peneliti dikemukakan fakta
bahwa anak yang menonton program televisi yang menampilkan kekerasan
memiliki keinginan  lebih untuk berbuat kekerasan pada anak lain
dibandingkan dengan yang menonton program yang tidak mengandung
kekerasan. Dan memang harus diakui kalau televisi telah menjadi salah
satu aspek yang mempengaruhi tingkah laku anak. Hal ini karena
banyaknya waktu yang dihabiskan seorang anak di depan layar televisi.
Namun harus dicatat, kalau tidak semua acara televisi cocok untuk
anak.

Saya ingat waktu
saya masih dibangku sekolah dasar, saya dan teman-teman ’belajar’
mengatakan
shit, son of a bitch, fuck
you, idiot
dan beberapa kata kasar
lainnya setelah menonton sebuah acara televisi. Pengaruh acara kasar
yang ada di televisi juga dapat dilihat dari kasus
smack
down
beberapa waktu lalu. Berapa banyak
korban yang jatuh, karena anak mencoba meniru adegan dalam acara
tersebut. Dan jika melihat dari kasus
smack
down
, sepertinya pemberlakuan jam
tayang menjadi tidak efektif lagi. Seperti kita tahu kalau
smack
down
ditayangkan pada jam 10 malam yang
notabene merupakan jam tidur anak, akan tetapi toh hal ini tidak
mampu membendung hasrat anak untuk menonton acara tersebut.

Sudah menjadi sebuah
keyakinan umum kalau film kartun adalah tayangan yang cocok untuk
dikonsumsi anak-anak. Hal itu hampir menjelma menjadi suatu hal yang
tak terbantahkan sebelum kemunculan crayon sinchan. Akan tetapi
lambat laun orang tua kembali ke keyakinan umum tadi.

Simpsons_cast
Tadi pagi saya
melihat salah satu film kartun di salah satu stasiun swasta. Harus
saya akui kalau film tersebut yang pernah menjadi salah satu film
kartun favorit saya semasa duduk dibangku sekolah dasar dulu. Film
tersebut adalah Film The Simpson. Film yang mengisahkan sebuah
keluarga berwarna kuning yang memiliki jari 4. Harus diakui kalau
film ini memang sarat akan humor, akan tetapi harus disadari juga
kalau humor yang disampaikan dalam film ini cenderung kasar dan
anarkis. Saya sempat berargumen dengan teman saya mengenai hal ini,
karena menurutnya tidak ada yang kasar dengan film ini dan toh film
ini ditayangkan pada jam setengah sembilan malam.

Simpsons_springfield
Oke, kalau film ini
tidak kasar. Saya akan berikan beberapa contoh berikut. Simaklah
dialog dalam sebuah episode ketika Homer Simpson membuat ’kejutan’
kepada Bart Simpson dalam rangka
April Fool dengan memberikan susu yang sudah basi.

Homer : Ha
ha April fool!

Homer : I’ve
been keeping that carton of milk next to the furnace for six week.
Sucker!

Bart : You’re
going down Homer. I’m gonna fool you

Homer : You
talk better than you fool

Bart : I
Fool you up a real nice

Homer : You
couldn’t fool your mother on the foolingest day of you life if you
had electrified fooling machine

Simak juga dialog ketika
Bart dengan seorang asing ketika sedang menyiapkan rencana untuk
membalas ’kejutan’ yang dilakukan Homer sebelumnya.

Orang Asing : Hey
Kid, that’s for customer only

Bart : Uh,
did you know there’s a guy outside handing out free Stri-Dex pads?

Orang Asing : Wow
I’m in pizza-face paradise!

Bart : Moron

Tidakkah kata-kata
tersebut cukup kasar untuk diucapkan dalam sebuah percakapan keluarga
dan dengan orang asing?? Tidak?? Bagaimana dengan kata-kata yang
diucapkan oleh CM Burns berikut??

Burns : You
stupid monkey

Burns : Homer
simpson is cock of nothing!

Hey apakah kata-kata
tersebut tidak cukup kasar??

Simpson1
Maggie_homer
Lisa_bart
Jika tadi saya
memberi contoh tentang kata-kata kasar dalam film ini, sekarang saja
akan memberi contoh mengenai perbuatan anarkis dalam film ini. Dalam
gambar paling kiri digambarkan keluarga simpson sedang membalas
dendam
April Fool
kepada tetangganya, gambar yang ditengah menggambarkan Maggie Simpson
sedang memukul kepala ayahnya yang baru pulang, sedangkan gambar yang
paling kanan menggambarkan imajinasi Lisa Simpson dan apa yang ingin
ia lakukan kepada Bart ketika ia telah dewasa kelak.

Lihat khan?? Betapa
tayangan The Simpson menyimpan adegan kasar dan anarkis didalamnya??
Okay anda berargumen kalau jam tayangnya sudah cukup malam. Saya akan
kembali mengingatkan kasus
smack down,
tidakkah jam tayangnya lebih malam dan itu tidak berpengaruh?? Dan
jangan lupa, The Simpson juga ditayangkan pada hari minggu pagi.
Apakah itu bukan jam tayang anak??

Jujur saja saya
khawatir akan lahir generasi Simpson episode 2… Kenapa episode 2??
Karena generasi simpson episode pertamanya mungkin sudah lahir ketika
tayangan pertama waktu saya SD dulu, ketika saya dan teman-teman
mencoba menirukan adegan kasar dan anarkis dalam film. Hmm… semoga
saja kekhawatiran saya tidak akan terwujud. Mau jadi apa generasi
berikut jika perilaku simpson dijadikan contoh??

Mungkin cara yang lebih efektif untuk mencegah perilaku simpson
mendarah daging pada perilaku anak dan keponakan kita adalah dengan
mendampinginya dan memberikan penjelasan padanya… Entahlah….

The Husband, Kisah Pengorbanan Seorang Suami

October 4th, 2007 by uda-havid

The_husband
Terus terang awalnya saya gak ragu untuk membeli novel ini karena saya khawatir akan dihadapkan pada kisah melodrama yang cengeng… akan tetapi setelah melihat keterangan ‘New York Times Best Seller‘ saya menjadi tertarik dengan novel ini… Hmmm… The Husband karya Dean Koontz…. Katanya… Inspiratif bagi lelaki,kejutan bagi perempuan… ketertarikan saya semakin bertambah pada buku ini. Akhirnya saya putuskan untuk membeli novel ini.

Malam setelah saya membeli novel ini saya langsung membacanya… Dan ternyata, hipotesa saya salah. Novel ini bukanlah berkisah tentang melodrama yang cengeng… Novel ini adalah novel romantic thriller yang sangat menarik!!

Dikisahkan Mitch, seorang tukang kebun bersahaja yang menjali hidupnya dengan bahagia, tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah telepon. Dalam telepon itu, sang penelepon mengatakan kalau mereka telah menculik Holly, istri Mitch, dan meminta tebusan sebesar dua juta dollar yang sudah harus dibayarkan sebelum 60 jam atau istrinya akan dibunuh. Mereka juga mengancam akan membunuh Holly kalau Mitch melapor ke polisi.

Awalnya ia mengira ini hanyalah gurauan. Bagaimana mungkin seorang tukang kebun yang hanya memiliki tabungan belaran ribu dollar bisa memberikan uang dua juta dollar dalam waktu 60 jam. Akan tetapi sang penculik kemudian meyakinkan Mitch kalau mereka bersungguh-sungguh dengan tuntutannya dengan menembak mati seorang pejalan kaki yang melintas di depan Mitch.

Sesaat setelah penembakan itu, Mitch di interogasi oleh detektif Taggart, yang instingnya kemudian menangkap kalau Mitch menyembunyikan sesuatu. Akan tetapi karena teringat dengan pesan yang disampaikan penculik, Mitch tidak menceritakan penculikan Holly kepada Taggart. Ketika ia kembali ke rumah, Mitch dikejutkan dengan keadaan dapurnya. Banyak bercak darah dibeberapa titik dan yang membuatnya semakin terdesak adalah para ternyata penculik sudah mensetting Mitch untuk menjadi tersangka pembunuh Holly kalau ia melaporkan kejadian ini ke polisi.

Mitch semakin bingung untuk melakukan tindakan, ia ternyata sedang berhadapan dengan penjahat profesional. Oleh karena itu, Mitch kemudian memutuskan untuk mengikuti instruksi dari penelepon yang menyuruhnya untuk melibatkan Aston Rafferty, kakak Mitch. Dan ketika bertemu Anson, Mitch kembali dikejutkan dengan kenyataan yang selama ini jauh dari bayangannya..

Itulah sepenggal kisah tentang The Husband. Dean Koontz seperti memberikan jawaban lain tentang pengorbanan yang didasarkan atas cinta. Apa yang akan dilakukan seseorang karena cinta? Apakah anda bersedia mati? Atau… Apakah anda bersedia untuk membunuh? Koontz menjawabnya dengan jawaban menarik dalam novel ini.

Koontz berhasil membuat suatu kejadian yang selama ini sering dikategorikan ke wilayah hitam dan putih masuk ke dalam wilayah abu-abu. Karena memang terkadang hal yang secara kasat mata berada dalam wilayah hitam ternyata tidak sepenuhnya hitam. Koontz juga berhasil membuat saya sadar kalau seringkali seseorang ternyata memang belum benar-benar mengenal secara utuh orang terdekatnya.

Meskipun terdapat beberapa hal yang membuat saya bertanya-tanya diakhir novel ini. Akan tetapi novel ini secara keseluruhan sangat menarik. Anda akan mendapatkan pengalaman membaca yang menarik dimana anda akan selalu dibuat penasaran karena setiap bagian memiliki efek kejutan tersendiri bagi pembaca. Sungguh sebuah novel yang memikat dengan penggambaran karakter yang kuat. Pesan saya… Bacalah Novel Ini!!!

HUBBU: Ketika Seorang Ahli Waris Pesantren Mengalami Pergeseran Budaya

September 25th, 2007 by uda-havid

Hubbu
Saya membeli novel
ini karena kisah di novel ini telah memenangkan lomba novel di Dewan
Kesenian Jakarta,9 Maret 2007. Awalnya saya agak ragu untuk membeli
novel ini, akan tetapi karena saya menyukai novel ‘Glonggong’
yang menjadi juara harapan pertama dalam lomba yang sama maka saya
pun memutuskan untuk membeli novel ini.

Penggalan Kisah

Novel ini dibuka
oleh sebuah prolog jaman prawayang yang diberi judul lontar lokapala.
Prolog ini berkisah tentang sebuah surat yang ditulis di daun lontar
oleh Danareja untuk ayahnya Wisrawa raja Lokapala. Danareja merasa
telah dipenggal kisah cintanya oleh ayahnya sendiri yang tega
menyetubuhi Dewi Sukesi, calon istri Danareja. Itu terjadi karena
Dewi Sukesi meminta Wisrawa membuka rahasia ilmu Sastra Gendra
sebagai syarat ia mau menjadi menantu. Akibat dari diuarnya ilmu
rahasia tersebut ternyata sangatlah fatal.

Kisah kemudian
beralih ke kehidupan Abdullah Satar, tokoh utama dalam novel ini yang
lebih dikenal dengan panggilan Jarot.  Jarot berasal dari keluarga
terpandang di desa Alas Abang. Dia adalah cucu dari Mbah Adnan,
seorang kyai pimpinan pesantren yang sangat terpandang di desa
tersebut. Jarot dikisahkan merupakan kandidat kuat sebagai pewaris
pesantren karena dianggap memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki
oleh keturunan Mbah Adnan yang lain.  Karena hal tersebut, jarot
kemudian diperlakukan secara khusus. Akan tetapi kemudian ia
memberontak dan memilih kehidupannya sendiri.

Tanpa sepengetahuan
keluarganya, Jarot secara diam-diam mempelajari tentang budaya jawa
dan dunia mistiknya kepada Wak Tomo ketika ia masih bersekolah.
Pemberontakan Jarot tidak berhenti sampai disitu, setelah lulus
sekolah pun Jarot kembali memilih kehidupannya sendiri dengan
meninggalkan desa Alas Abang dan pergi jauh ke Surabaya untuk kuliah
di Universitas Airlangga. 

Dimasa kuliah ini
Jarot kemudian sering mengalami konflik psikologis dan gagap atas
kultur kehidupan kota. Jarot yang sedari kecil sudah terbiasa dengan
kehidupan yang mengedepankan akhlak dihadapkan pada suatu kultur yang
mengedepankan kehidupan bebas yang sangat bertolak belakang  dengan
latar belakangnya. Pada awalnya Jarot berusaha membentengi dirinya,
akan tetapi seiring dengan waktu akhirnya benteng tersebut pun
runtuh, Jarot pun kemudian mulai terbiasa dengan minuman keras.
Setelah terbiasa dengan minuman keras, Jarot yang awalnya juga
membentengi dirinya dari seks bebas akhirnya terjerumus juga manakala
ia mendapati dirinya berada satu ranjang dengan Agnes dalam keadaan
tidak berpakaian.

Perasaan bersalah
kemudian menghinggapi Jarot, ia merasa telah menghianati keluarganya
dan tak layak lagi untuk mewarisi kepemimpinan pesantren di Alas
Abang. Perasaan bersalah tersebut semakin lama semakin
menggerogotinya, hingga ia pun akhirnya bertindak ekstrem dengan
memenggal kehidupannya di masa lalu, baik itu di Surabaya maupun Alas
Abang. Jarot kemudian mengasingkan diri ke Ambon bersama
Agnes,sebagai satu ikrar penebusan dosa. Ia ingin memulai hidup baru
dengan beban keterpurukan jiwa yang hebat.

Kisah kemudian
beralih ke tahun 2040 dengan Aida, anak Jarot, sebagai tokoh
utamanya. Aida yang ingin mengetahui tentang kehidupan masa lalu
ayahnya kemudian memutuskan menelesuri masa lalu ayahnya dengan pergi
ke Surabaya dan Alas Abang saat liburan semester. Usaha Aida pun
tidak sia-sia, ia pun kemudian berhadapan dengan  kenyataan kisah
masa lalu ayahnya yang penuh dengan konflik batin.

Umpan Balik

Itulah kira-kira
penggalan kisah dalam novel Hubbu. Hubbu sendiri berasal dari bahasa
arab yang artinya cinta. Terus terang saya tidak begitu mengerti
mengapa novel ini diberi judul Hubbu, karena menurut saya novel ini
bukan bercerita tentang cinta akan tetapi tentang konflik batin dan
pergeseran budaya.

Harus diakui kalau
novel ini kaya akan plot, setting dan memiliki cara bertutur yang
penuh warna. Meskipun hal tersebut sering membuat bingung pembaca
novel yang awam seperti saya.. :(

Kehidupan Aida yang
hidup ditahun 2040 juga terkesan janggal. Cara penulis menggambarkan
Alas Abang, Surabaya, dan Ambon serta perangkat teknologi yang
digunakan tidak terkesan kalau zaman sudah melompat jauh 33 tahun
kedepan dari sekarang. Karena suasana yang digambarkan tidak berbeda
dengan kehidupan sekarang, sehingga tahun 2040 terkesan sebagai suatu
setting waktu yang dipaksakan.

Akan tetapi harus
diakui kalau novel ini memang memiliki warna. Banyak yang menganggap
kalau novel ini sejajar dengan Saman karya Ayu Utami. Harus saya akui
kalau novel ini memang memiliki gaya penuturan yang mirip dengan
Saman. Terutama dalam hal romantisme erotis yang menelusuri hubungan
antara kasih dan birahi.

Dan akhirnya,
meskipun novel ini berhasil menjadi juara pertama dalam lomba menulis
novel 2006 yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta, secara jujur harus
saya akui kalau saya termasuk orang yang tidak dapat merasakan
kepuasan ketika membaca novel ini. Suatu perasaan yang sama seperti
ketika saya membaca Saman. Hmm… Mungkin saya memang tidak cocok
dengan gaya penulisan novel yang seperti ini… Entahlah…

Penduduk Indonesia Saat Ini

September 23rd, 2007 by uda-havid

Sample_ages
Saya tertarik dengan hasil riset dari
CLSA bersama Roy Morgan Market Research Firm yang saya terima dari
seorang teman. Hasil riset ini sendiri berjudul Mr & Mrs
Indonesia (Asia’s Middle Class Revealed). Riset ini sepertinya
bertujuan untuk memberikan informasi tentang gambaran umum masyarakat
indonesia kepada publik dan pemasar pada khususnya.

Saya tidak akan menjabarkan detail
hasil riset mereka, akan tetapi saya akan mengulas beberapa point
yang menurut saya menarik. Oke, sekarang lebih baik kita langsung
masuk ke poin-poin tersebut.

Amount_money_in_bank
Saya tertarik dengan data ini, tiga
dari empat penduduk indonesia tidak memiliki tabungan di bank. Itu
artinya, hanya 25% penduduk Indonesia yang memiliki account di
bank. Dan dari  penduduk yang memiliki account dibank,
ternyata 56% diantaranya hanya memiliki tabungan kurang dari Rp 4.5
juta rupiah. Jika melihat angka diatas, maka dapat dikatakan kalau
mayoritas masyarakat di Indonesia tergolong unbankable.
Bagi perusahaan pembiayaan seperti tempat saya bekerja, kondisi ini
tentu merupakan tantangan sekaligus kesempatan untuk melakukan
ekspansi usaha sekaligus mengembangkan pasar. Bagi pemerintah, tentu
ini merupakan pekerjaan rumah dan tantangan untuk mengembangkan
semacam ‘bank untuk orang miskin’ seperti yang telah berhasil
dikembangkan oleh Muhammad Yunus di Bangladesh untuk membantu
masyarakat keluar dari rantai kemiskinan.

Stocks
Selama ini ada
keyakinan umum kalau IHSG merupakan indikator makro dari perekonomian
Indonesia yang representatif, jujur saja saya masih meragukan hal
tersebut. Alasannya sederhana, IHSG tidak mencerminkan kondisi riil
perekonomian Indonesia. Karena antara pertumbuhan sektor riil dengan
IHSG ternyata sangatlah berbeda. Memang IHSG memiliki andil terhadap
perekonomian nasional, akan tetapi kalau dikatakan sebagai indikator
perekonomian, saya masih agak ragu. Terlebih setelah saya melihat
data Roy Morgan kalau hanya 1% dari penduduk Indonesia yang memiliki
saham di bursa. Pertanyaannya, apakah 1% penduduk bisa mewakili
kondisi penduduk secara keseluruhan??

Breakdown_spending
Saya juga tertarik
dengan data ini, ternyata 18% dari uang belanja rumah tangga
digunakan untuk membeli rokok dan rata-rata orang Indonesia merokok
1000 batang rokok pertahun per orang. Itu artinya rata-rata penduduk
indonesia menghabiskan 2-3 batang rokok perhari. Bisa dibayangkan,
asumsi yang digunakan adalah penduduk indonesia yang merokok dan
tidak merokok. Sekarang coba anda bayangkan berapa batang rokok yang
dihabiskan oleh seorang perokok perhari?? Jika melihat data tersebut,
maka cukup wajar kalau 3 dari 5 orang terkaya di Indonesia adalah
pengusaha rokok.

Data ini juga
sempat membuat saya bertanya-tanya, bayangkan berdasarkan data 90%
penduduk Indonesia memandang agama sebagai suatu hal penting dalam
hidupnya. Menarik, jika hal tersebut benar, kenapa korupsi dipandang
sebagai sebuah perbuatan yang biasa?? Bukankah agama melarang
seseorang untuk korupsi?? Lalu pertanyaannya lagi, apakah pentingnya
agama hanya sebagai identitas saja??

Household_sanitation
Dan terakhir, dua
data berikut juga mengenaskan bagi saya, ternyata lebih dari 33 juta
rumah tangga tidak memiliki akses terhadap sarana pembuangan limbah
rumah tangga. Dan ternyata juga 28% penduduk menikah pada usia
dibawah 15 tahun…

Ada Apa Dengan MA??

September 22nd, 2007 by uda-havid

Mahkamah Agung sepertinya benar-benar
sedang menjadi sorotan akhir-akhir ini. Saya mendapati banyak sekali
berita hilir mudik mengkisahkan tentang lembaga hukum tertinggi di
Indonesia itu.  Mulai dari kenaikan gaji yang baru diterima Mahkamah
Agung, kesalahan ketik atas suatu kasus yang lagi-lagi terjadi tidak
lama setelah kabar kenaikan tunjangan mereka, keputusan kontroversial
MA yang memenangkan gugatan Soeharto atas TIME, hingga yang paling
anyar ketika MA ditolak diperiksa BPK atas kasus biaya perkara. MA
tampaknya memang masih enggan mereformasi diri. Okai, sekarang akan
saya coba telaah, mengapa berita diatas menjadi kontoversial dan
mempertebal keyakinan saya akan jauhnya MA dari semangat memperbaiki
diri.

Saya akan mencoba memulai dari kenaikan
tunjangan yang diterima MA dikaitkan dengan kesalahan ketik atas
beberapa kasus. Kenaikan tunjangan, logikanya linear dengan perbaikan
pekerjaan. Akan tetapi kalau kenaikan tunjangan ini berbanding
terbalik dengan kinerja, maka kenaikan tunjangan ini patut untuk
dipertanyakan. Sudah banyak sekali kasus kesalahan ketik yang
dilakukan Mahkamah Agung, anda bisa melihat kasus kesalahan ketik
yang dilakukan Mahkamah Agung di salah satu portal berita ini. Nah
jika anda sudah melihat contoh kesalahan ketik tadi, pertanyaannya
adalah: Jika untuk masalah sepele saja MA membuat kesalahan,
bagaimana dengan hal-hal yang besar?? Pertanyaan berikutnya adalah:
Apakah MA benar-benar layak mendapatkan kenaikan tunjangan apabila
kinerjanya masih jauh dari baik?? Okai, saya serahkan kepada anda
untuk menjawab dan membuat opini atas pertanyaan ini…. Seperti
karikatur yang pernah dimuat di Jawa Pos, disaat masyarakat
bergembira menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, MA juga
bergembira dengan kenaikan tunjangan. Sehingga mereka layak untuk
berkata Marhaban Ya Tunjangan….

Kedua, keputusan Mahkamah Agung
memenangkan gugatan Soeharto atas TIME. Dalam kasus ini, saya melihat
kental sekali nuansa orde baru dalam keputusan yang dibuat. Hakim
yang memutuskan berasal dari militer dan dalam keputusannya hakim
tersebut berkata kalau TIME telah menggangu kehormatan jenderal besar
Soeharto. Apalagi kalau bukan nuansa orde baru?? dan… 1 triliun
rupiah?? Wow!! Kira-kira apakah uang tersebut akan diterima Soeharto
seluruhnya atau akan ada orang tertentu yang kecipratan??
Kasus TIME ini benar-benar mengingatkan saya atas kasus media vs
penguasa di era orde baru dulu… Kebebasan pers tampaknya mundur
jauh kebelakang dengan adanya keputusan ini…

Dan ketiga, penolakan MA untuk
diperiksa BPK atas kasus biaya perkara. Jika kita berbicara tata
kelola pemerintahan yang baik (good corporate governance),
maka sejatinya tidak ada satu lembaga pemerintahan manapun yang bisa
menolak untuk diperiksa, mengingat lembaga tersebut mendapat anggaran
dari APBN. Jadi ketika MA menolak untuk diperiksa, maka hal ini patut
untuk dipertanyakan. Apakah penolakan ini karena ketakutan Mahkamah
Agung terhadap laporan keuangannya yang amburadul dan tidak dapat
dipertanggungjawabkan ke publik? atau… Apakah penolakan ini semakin
menunjukkan kalau MA adalah lembaga yang arogan dan mabuk kuasa
setelah berhasil memotong kewenangan komisi yudisial sehingga merasa
tidak ada yang berhak memeriksa mereka?? atau.. Apakah hal ini
menunjukkan kedua pertanyaan diatas?? Kembali saya serahkan ke anda
untuk beropini dan berpendapat…

  • Berita yang berhubungan dengan MA
    dibulan ini semakin menambah panjang sepak terjang yang dilakukan
    MA, setelah sederet berita kontroversial mengenai MA dibulan yang
    lalu. (Anda dapat melihat berita dibulan yang lalu di link ini)

Prison Break Vs. Heroes: Mana Yang Lebih Oke??

September 19th, 2007 by uda-havid

Selama sekitar 2 minggu terakhir, waktu
saya banyak dihabiskan dengan melahap 2 serial TV yang berjudul
Prison Break dan Heroes. Mungkin karena saya nonton dengan Maraton
atau karena memang 2 serial ini muncul di stasiun TV hampir bersamaan
sehingga membuat saya tergoda untuk membanding-bandingkan kedua
serial ini.

 

Prison Break (Season 1 dan 2)

Prisonbreakseason1
Sesuai dengan judulnya, film ini memang
berkisah tentang upaya melarikan diri dari penjara. Tokoh utama dalam
film ini adalah Michael Scofield dan Lincoln Burrows. Dikisahkan
Lincoln Burrows ditangkap dan dijatuhi hukuman mati karena dianggap
membunuh Terrence Steadman, saudara dari wakil presiden. Hal ini
diperkuat oleh adanya bukti rekaman yang menunjukkan Lincoln sedang
menodongkan pistol ke jenazah Steadman dan fakta baru dipecatnya
Lincoln dari perusahaan Steadman. Sambil menunggu eksekusi, Lincoln
kemudian dijebloskan ke penjara Fox River.

 

Lincoln Burrows yang tidak bersalah dan
merasa dijebak, kemudian berusaha meyakinkan adiknya, Michael
Scofield kalau dirinya tidak bersalah. Awalnya Scofield tidak percaya
dengan ucapan kakaknya tersebut. Namun kemudian Scofield akhirnya
percaya dan sadar kalau kakaknya hanyalah korban dari sebuah
konspirasi tingkat tinggi. Scofield kemudian bertekad untuk
membebaskan kakaknya dan mulai menyusun strategi untuk membebaskan
kakaknya.

 

Scofield kemudian memulainya dengan
mempelajari cetak biru penjara Fox River dan memindahkan cetak biru
penjara fox river tersebut dengan merajah tubuhnya dengan tato yang
bisa menggambarkan detail fox river yang tersamarkan.  Selanjutnya
Scofield mulai menjalankan rencana ke dua, Scofield kemudian
‘merampok’ bank yang dengan mudah digagalkan oleh polisi. Scofield
kemudian dihukum 5 tahun penjara di Fox River.

 

Setelah didalam penjara Scofield
kemudian mulai menyusun rencana untuk melarikan diri dari penjara.
Untuk itu ia kemudian, melobi John Abruzzi, seorang bos mafia yang
berkuasa di Fox River yang ditangkap karena kesaksian dari Otto
Fibonacci. Setelah lobinya berhasil, Scofield kemudian ‘dipekerjakan’
di Prisoner Industries (PI) oleh Abruzzi.

 

Di PI ini, Scofield dan Burrows harus
bekerjasama dengan napi lain, yang kelak juga akan memberi warna
dalam serial ini, selain Abruzzi, ada Fernando Sucre, teman satu sel
Scofield yang ditangkap karena merampok toko. Theodore Bagwell
(T-Bag), napi yang dipenjara karena melakukan pembunuhan berantai.
Charles Westermoreland, napi yang ditangkap karena pembajakan uang
senilai 5 juta dollar.Benjamin Miles Franklin (C-Note), seorang
tentara yang ditangkap karena dijebak atasannya yang tidak suka kalau
C-Note mengetahui adanya penyiksaan tahanan. David Apolskis (Tweener)
yang bergabung terakhir di PI, pemuda yang ditangkap karena
mencopet…

 

Selain melibatkan tokoh diatas, upaya
pelarian Scofield juga melibatkan beberapa tokoh lain, seperti
Charles Patoshik, seorang napi sakit jiwa yang mengetahui kalau
Scofield memiliki cetak biru fox river di badannya. Henry Pope,
kepala penjara Fox River. Sara Tancredi, dokter penjara, serta Brad
Bellick, kepala keamanan penjara.

 

Upaya Scofield untuk kabur dari penjara
digambarkan sangat berliku dan sangat seru sehingga saya dibuat
selalu penasaran dengan kisah bagaimana mereka bisa melarikan diri
dari Fox River.

 

Setelah berhasil melepaskan diri Fox
River, Scofield dan para napi yang berhasil kabur kemudian harus
bermain kucing-kucingan dengan para polisi karena mereka kemudian
menjadi buronan nomor wahid di Amerika Serikat. Cerita kemudian
menjadi lebih kompleks lagi, karena Scofield dan napi lainnya harus
beradu cerdik dengan Alexander Mahoney, agen FBI yang memiliki
ketergantungan obat. Selain itu Scofield juga harus berhadapan dengan
Agen Kellerman dan William Kim yang bekerja pada The Company, yang
sebelumnya merancang konspirasi untuk menjebak Lincoln Burrows. Adu
kecerdasan antara Scofield, Kellerman, William Kim, dan Mahoney
menjadi daya tarik tersendiri setelah Scofield berhasil melarikan
diri dari Fox River.

 

Secara keseluruhan, kisah karya Paul
Scheuring
ini berlangsung secara menarik dan penontonpun akan dibuat
penasaran dengan lika-liku yang dialami oleh tokoh dalam serial ini.
Intrik dan kecerdasan penuturan dalam kisah ini juga menjadi candu
tersendiri dalam serial ini.

 

Heroes (season 1)

Heroes_big
Heroes berkisah tentang sekelompok
manusia yang memiliki kelebihan yang diturunkan secara genetik.
Kelebihan genetik ini membuat mereka menjadi seperti manusia super
yang memiliki kemampuan yang unik dan istimewa. Sebagian dari mereka
menganggap keunikan mereka sebagai sebuah anugerah sebagian lainnya
menginginkan kehidupan normal tanpa keunikan yang mereka miliki.

 

Adalah Prof. Chandra Suresh yang
pertama kali menguraikan tentang sekelompok orang yang memiliki
kelebihan secara genetik ini. Dalam proses penelusuran pohon
kehidupan para manusia istimewa ini, Chandra Suresh dibantu oleh
Gabriel Gray yang juga memiliki kelebihan untuk dapat menyerap
kemampuan orang lain dengan mempelajari otak mereka. Awalnya Gabriel
Gray membantu Suresh dalam menelusuri jejak manusia istimewa ini,
akan tetapi kemudian karena ketamakannya Gray kemudian membunuh
Chandra Suresh dan memburu para manusia istimewa untuk dibunuh dan
diserap kemampuannya. Gabriel Graypun kemudian merubah namanya
menjadi Sylar. Tokoh antagonis yang paling ditakuti di serial ini.

 

Penuturan kisah di Heroes dijalin
dengan beberapa kisah tunggal yang kemudian dirangkai secara paralel
yang masing-masing memiliki benang biru untuk mendukung kisah utama.
Oleh karena itu kisahpun sering melompat dari tokoh yang satu ke
tokoh yang lain dan dari tempat satu ketempat yang lain.

 

Selain Sylar, tokoh utama dalam Heroes
adalah Claire Bennet, seorang cheerleader yang memiliki kemampuan
menyembuhkan diri secara cepat. Niki Sanders, yang memiliki 2
kepribadian yang bertolak belakang, dimana yang salah satu
kepribadiannya merupakan penjelmaan dari Jessica (saudara kandung
Niki yang telah meninggal). D.L, suami Niki Sanders yang mampu
menembuh ruang padat. Micah, anak Niki dan D.L yang cerdas dan mampu
berkomunikasi dengan mesin. Nathan Patrelli, seorang politisi yang
bisa terbang. Isaac Mendes, seorang pelukis yang mampu melukis masa
depan. Hiro Nakamura, yang mampu memanipulasi ruang dan waktu.
Officer Parkman, yang mampu membaca pikiran orang lain. Mr Bennet,
ayah angkat dari Claire yang selalu memantau keberadaan manusia
biasa, Mohinder Suresh, anak dari Chandra Suresh yang meneruskan
penelitian orang tuanya, The Haitian yang mampu membuat manusia
istimewa lainnya kehilangan kemampuan mereka bila berada didekatnya,
serta Peter Patrelli, tokoh protagonis paling hebat diserial ini yang
mampu menyerap kemampuan manusia istimewa lainnya yang bertemu
dengannya.

 

Tema yang diangkat Tim Kring  dalam serial ini
sebenarnya adalah save the cheerleader, save the world. Pesan ini
pertama kali disampaikan oleh Hiro Nakamura kepada Peter Patrelli di
suatu gerbong kereta bawah tanah. Kisah kemudian berkisah tentang
upaya beberapa tokoh di serial ini untuk melindungi Claire sang
Cheerleader dan upaya mereka untuk menyelematkan dunia. Dan seperti
yang sudah saya jabarkan diatas, kisah pun sering melompat-lompat
dari bingkai kejadian satu ke kejadian lain hingga kisah ini usai.

 

Mana Yang Lebih Menarik??

Seperti yang saya utarakan di awal,
saya sangat tergoda untuk membanding-bandingkan kedua serial ini. Dan
menurut saya jika dilihat dari kisahnya secara keseluruhan, Prison
Break jauh lebih seru daripada Heroes. Alasan sederhananya adalah
saya sempat dibuat bosan oleh kisah dalam serial Heroes, sedangkan
kisah dalam Prison Break seperti candu yang mampu membuat saya selalu
penasaran hingga akhir episode. Selain itu, kisah dalam Prison Break
lebih masuk akal dibandingkan dengan Heroes. Yah… setidaknya itulah
pendapat saya…

 

 

Dunia Tanpa Telepon dan Internet [serta Fax] Mungkinkah??

September 5th, 2007 by uda-havid

Mulai kemarin hingga besok, menurut estimasi Telkom, mesin
fax dan 4 dari 8 line telepon dikantor saya kemungkinan besar tidak
dapat digunakan karena jaringannya terputus. Akibatnya, sudah bisa saya tebak, aktivitas pekerjaan menjadi sangat
terganggu. Berkas-berkas yang harus difax mengalami delay. Kantor tidak
dapat dihubungi karena salah satu line yang mati adalah line
telepon masuk. Proses komunikasi dengan customer, supplier, dan
rekanan terhambat kerena line telepon sering sibuk…. Hmm… Sungguh
mimpi buruk yang datang terlalu awal….

 

Saya kemudian
sempat membayangkan, bagaimana jadinya apabila manusia hidup tanpa telepon dan
faksimil?? Menurut saya mungkin bisa, akan tetapi bisa dibayangkan betapa tidak
efektif dan efisiennya hidup kita. Okay, yang penting masih bisa komunikasi.
Akan tetapi berapa waktu yang harus terbuang jika kita harus berkomunikasi
dengan orang yang jaraknya jauh??

 

Berikut akan saya
berikan contoh, saya tinggal di kota Malang dan misalnya saya sedang mencoba
bekerjasama dengan seseorang yang tinggal di Brastagi. Dalam proses kerjasama
tersebut kami harus membuat beberapa kesepakatan dan menjaga komunikasi. Berapa
waktu yang terbuang kalau setiap komunikasi kami harus ‘kopi darat’ atau surat
menyurat. Mari coba kita estimasikan waktu dan biaya yang digunakan dengan
‘kopi darat’ tadi. Katakanlah kami harus berkomunikasi minimal sebulan sekali.
Agar lebih adil, komunikasi dilaksanakan dengan pertemuan di Jakarta setiap awal
bulan dan apabila ada suatu hal yang mendesak maka pertemuan juga dapat
dilaksanakan di minggu ke 2, ke 3 atau minggu terakhir dengan terlebih dulu
mengirim surat. Bayangkan berapa biaya yang harus kami keluarkan jika harus ke
Jakarta dan berapa waktu yang harus dibuang dengan proses surat menyurat
sebelumnya agar kami bisa berkomunikasi secara insidentil?? Bandingkan dengan
berkomunikasi dengan alat komunikasi yang saya sebutkan diawal…. Tinggal pencet
nomor yang dituju, saya bisa langsung berkomunikasi dengan rekanan saya tadi.
Mana yang lebih praktis??

 

Bayangkan juga
jika rekanan saya di Brastagi tadi ingin mengadakan pertemuan insidentil di
Minggu ke 3 dengan surat pemberitahuan yang baru sampai ke tangan saya di
Minggu ke 2. Sedangkan pada saat yang bersamaan saya juga harus menghadiri
pertemuan dengan rekanan lain di Makasar. Apa yang harus saya lakukan??
Mengirim surat ke salah satu pihak dengan resiko mereka baru menerima kabar
dari saya di Minggu ke 3, dan akhirnya mereka kecewa?? Ah, sangat beresiko
sekali…. Tentu akan lebih efisien apabila berkomunikasi dengan media
komunikasi seperti telepon, fax, dan internet bukan??

 

Sedangkan contoh
lain dapat digambarkan sebagai berikut, seandainya anda adalah seorang
pengusaha kelapa sawit yang memiliki area operasi di Jawa Timur dan mendapat
pasokan kelapa sawit dari daerah Riau. Apa yang terjadi jika permintaan kelapa
sawit melonjak secara drastis diluar perkiraan anda sementara stok kelapa sawit
anda hanya cukup untuk persediaan 10 hari dan sistem komunikasi masih sangat
tradisional sehingga anda membutuhkan waktu sekitar 2 – 3 minggu agar pesanan
kelapa sawit anda sampai di gudang anda (ingat asumsi awal: tidak ada telepon,
internet dan faksimil). Anda mungkin akan menjawab, harga kelapa sawit pasti akan
mahal sesuai dengan hukum permintaan. Anda benar… Akan tetapi bagaimana jika
anda memiliki banyak saingan di Jawa Timur dimana mereka memiliki stok yang
melimpah dan enggan menjualnya ke anda karena mereka juga melihat potensi
keuntungan yang ada dengan merebut pelanggan anda yang kehabisan kelapa sawit
di anda?? Bisa dibayangkan, berapa banyak pelanggan setia anda yang akan
berpaling dari anda… Sungguh suatu kondisi yang sangat tidak menguntungkan
bukan?? Sekarang kita asumsikan lagi kalau sistem komunikasi normal seperti
sekarang (ada telepon, faksimil, dan internet). Disaat permintaan naik dan persediaan
kelapa sawit anda hanya cukup untuk 10 hari, anda tinggal meminta supplier anda
(bisa melalui telepon, fax, atau internet) untuk mengirimkan kelapa sawit ke
anda. Dan hasilnya, anda tidak akan mengalami kelangkaan kelapa sawit karena
stok kelapa sawit sudah sampai digudang anda kurang dari 10 hari. Dan… anda
bisa memanjakan pelanggan loyal anda….

 

Oleh karena itu,
dari contoh diatas, saya mengambil kesimpulan kalau dunia tanpa telepon, fax
dan internet memang mungkin terjadi akan tetapi itu sama artinya dengan kembali
ke abad kegelapan dimana bumi ‘masih bulat’ dan tidak sedatar sekarang. Segala
sesuatu pun berjalan lambat dan roda perekonomian tidak bisa berputar dengan
cepat karena bumi yang tidak datar.*

 

*Terinspirasi
dari matinya jaringan telekomunikasi dikantor saya dan The World Is Flatnya
Thomas Friedman.