Freakonomics: When Young Genius Economist Asking….
Apa yang terjadi jika seorang ekonom muda yang sangat berbakat dan brilian berfikir dan bertanya??? Sudah pasti hasilnya adalah suatu hal yang mengejutkan, unik, kreatif, dan diluar dugaan. Siapakah salah satu ekonom muda yang jika bertanya akan menghasilkan hal diatas??? Salah satunya adalah Steven D. Levitt, seorang ekonom muda dari Chicago University yang memperoleh medali John Bates Clark (medali yang diberikan dua tahun sekali kepada ekonom terbaik Amerika yang berusia dibawah 40 tahun).
Dan beruntungnya, kita dapat membaca pertanyaan-pertanyaan dari pemikiran Levitt dalam Freakonomics yang ditulisnya bersama Stephen J. Dubner seorang jurnalis asal New York. Dari kolaborasi mereka maka tidak usah heran kalau Freakonomics menjadi bacaan yang mudah dicerna, unik, kreatif, dan… provokatif!!! Seperti apakah pertanyaan-pertanyaan Levitt dalam Freakonomics?? Mari kita lihat uraian singkatnya…
What Do Schoolteachers and Sumo Wrestlers Have in Common?
Guru dan pesumo memiliki kesamaan. Setidaknya keduanya merupakan profesi yang dihormati. Guru dihormati karena merupakan penanam nilai luhur bagi generasi muda, sedangkan sumo dihormati karena bukan saja merupakan olahraga yang sakral tapi juga merupakan simbol kehormatan masyarakat Jepang. Akan tetapi keduanya memiliki persamaan lain, keduanya merupakan profesi yang sangat berpotensi melakukan kecurangan. Guru berpotensi untuk melakukan kecurangan dalam ‘membantu’ ujian peserta didiknya agar sekolah mereka ‘naik ke kasta yang lebih tinggi’. Begitupun dengan pesumo. Levitt dalam bab ini dengan brilian dan menarik menjelaskan kecurangan yang dilakukan guru dan pesumo, dan kapan mereka melakukan kecurangan tersebut.
Selain menceritakan tentang guru dan pesumo, bab ini juga menceritakan tentang kegagalan pengelolaan penitipan anak di Haifa dan keberhasilan Paul Feldman dalam mengurangi kecurangan di bisnis Bagelnya.
Jika kita telah selesai membaca bab ini maka kita akan menemukan beberapa konsep dasar ekonomi: Pertama, peranan insentif (baik itu insentif moral, sosial maupun ekonomi) dapat menyebabkan seseorang bertindak positif maupun negatif. Kedua, perilaku konsumen dan hubungannya dalam perbuatan curang. Dan Ketiga, konsekuensi dari peraturan yang diterapkan pemerintah terhadap kecurangan…
How Is the Ku Klux Klan Like a Group of Real-Estate Agents?
Apa yang menyebabkan Ku Klux Klan sama dengan Agen Real Estate. Pesamaannya adalah keduanya sama-sama tergantung dari informasi ‘rahasia’ yang mereka miliki. Perbedaanya adalah Ku Klux Klan menderita kehancuran ketika sandi rahasia mereka bocor ke tangan Stetson Kennedy sedangkan agen Real Estate mendapatkan keuntungan dari kelebihan informasi yang mereka dapatkan. Selain hal diatas bab ini juga menceritakan tentang terjadinya ‘kerusakan harga’ terhadap lemon car yang disebabkan oleh Assymetric Information, peranan internet dalam meminimalkan informasi yang asimetrik, dan diskriminasi yang terjadi di acara the weakest link.
Konsep dasar ekonomi dalam bab ini terdiri dari: Pertama, nilai ekonomi dari informasi. Bagaimana informasi dapat memberikan keuntungan dan memberantas kejahatan. Kedua, masalah insentif, yang menjelaskan mengapa agen real estate tidak bekerja secara maksimal dalam menjual rumah kliennya dibandingkan ketika mereka menjual rumah milik mereka sendiri. Ketiga, pengaruh perubahan teknologi, bagaimana pengaruh teknologi dalam meminimalkan informasi yang asimetrik. Keempat, kompetisi dan efisiensi, bagaimana pengaruh kelebihan informasi dan internet dalam peta kompetisi dan penciptaan efisiensi.
Why Do Drug Dealers Still Live with Their Moms?
Levitt mempertanyakan hal ini karena image di masyarakat adalah Bandar Narkoba merupakan suatu profesi yang sangat bergelimang uang. Akan tetapi jika memang demikian, mengapa mereka masih tinggal dirumah orangtua mereka?? Dari hasil study Sudhir Venkatesh selama tinggal bersama Geng The Black Disciples, Levitt menggambarkan piramida bisnis yang terdapat dalam bisnis obat terlarang yang ternyata mirip dengan hirarki di Mc Donalds dan Wal Mart. Dimana lapisan paling bawah hanya mendapatkan penghasilan yang sangat sedikit dan lapisan tingkat tinggi mendapatkan penghasilan yang sangat menggiurkan. Levitt menggambarkan dengan sangat menarik bahwa keyakinan umum (conventional wisdom) seringkali salah.
Konsep dasar ekonomi dalam bab ini sendiri terdiri dari: Pertama, Fixed Cost dan Variable Cost dalam sistem Produksi. Dimana Fixed Cost hanya terjadi dalam jangka pendek saja, sedangkan dalam jangka panjang semua menjadi Variabel Cost. Kedua, Pasar Monopoli, dalam bisnis obat-obatan terlarang penguasa di suatu daerah dapat mengambil semua pasar di daerah tersebut sehingga pada akhirnya menimbulkan perilaku monopoli. Akan tetapi proses untuk mencapai monopolist ini penuh dengan kompetisi. Hal inilah yang menyebabkan seringnya terjadi pertarungan antar geng. Ketiga, Masalah Insentif, masalah insentif dapat membuat seseorang tampil nekat karena adanya keinginan untuk mencapai pimpinan tertinggi dalam geng. Hal ini karena pimpinan geng tertinggi akan mendapatkan penghasilan yang sangat menggiurkan yang bisa beratus-ratus bahkan beribu-ribu kali lipat dibandingkan yang didapatkan oleh foot soldiers. Keempat, pengaruh perubahan teknologi tehadap pasar barang dan jasa. Bab ini menjelaskan bagaimana perubahan teknologi dapat menyebabkan perubahan signifikan dalam pasar barang. Bagaimana Cocaine berubah dari barang high class yang prestisius menjadi barang murah semenjak Crack ditemukan.
Where Have All the Criminals Gone?
Inilah bab paling kontroversial dalam buku ini. Bab ini menggambarkan terjadinya penurunan angka kejahatan di Amerika Serikat pada tahun 1990-an. Penurunan angka kriminal ini kemudian dijelaskan oleh para ahli disebabkan karena beberapa faktor yaitu efektifitas penjara, perpecahan pasar obat-obatan terlarang, bertambah tuanya populasi (para kriminal), hukum kepemilikan senjata yang makin ketat, penguatan ekonomi, dan bertambahnya jumlah polisi. Akan tetapi menurut Levitt (dalam penelitiannya bersama John Donohue), hal sebenarnya bukanlah yang diatas, karena yang menyebabkan terjadinya penurunan kriminal adalah pelegalan aborsi. Levitt mengawali argumennya dengan fenomena pelarangan aborsi di Romania yang menyebabkan lahirnya anak-anak dengan prestasi buruk di sekolah, kurang sukses di dunia kerja, dan terbukti cenderung menjadi para kriminal. Kemudian Levitt menjelaskan melalui penelitian lainnya.
Dalam bab ini gw tidak akan mengemukakan mengenai konsep dasar yang terdapat di bab ini, akan tetapi gw akan mengemukakan bahwa ternyata Profesor se-brilian dan se-jenius Levit pun bisa melakukan kesalahan. Levitt ternyata telah melakukan kesalahan dalam penghitungan dampak legalisasi aborsi. Kesalahan fatal dari penelitian Levitt yang tertuang di bab ini diungkapkan oleh Chris Foote dan Chris Goetz, peneliti Bank Sentral AS di Boston. Hal ini kemudian diakui oleh Levitt dan Donohue dan mereka kemudian mengkoreksi kesalahan tersebut.
What Makes a Perfect Parent?
Ada pertanyaan yang sangat menarik yang dilontarkan Levitt dalam bab ini, yaitu manakah yang lebih berbahaya membiarkan anak bermain di rumah tetangga yang memiliki kolam renang atau membiarkan anak bermain di rumah tetangga yang memiliki pistol? Sebagian besar orang mungkin akan menjawab yang kedua. Tapi lagi-lagi Levitt menegaskan kalau keyakinan umum seringkali salah. Karena ternyata lebih berbahaya membiarkan anak bermain di rumah orang yang memiliki kolam renang. Dalam bab ini Levitt juga bermain-main dalam parenting (pengasuhan anak), Levitt mengemukakan bahwa sesungguhnya sering terjadi pertentangan dalam pakar pengasuhan anak akan suatu metode. Selain itu Levitt menjelaskan tentang The economics of fear, dan hal yang berpengaruh dan tidak berpengaruh dalam membuat anak untuk menjadi lebih baik di sekolah.
Konsep dasar ekonomi dalam bab ini diantaranya adalah: Pertama, konsekuensi dari informasi yang tidak sempurna. Hal ini dapat dilihat dari peristiwa kolam renang vs pistol. Kedua, Analisa normatif vs positif dalam hal yang berpengaruh dalam membuat anak lebih baik di sekolah.
Perfect Parenting, Part II; or: Would a Roshanda by Any Other Name Smell as Sweet?
Bab ini menjelaskan pengaruh nama anak terhadap masa depan dan prestasi anak tersebut. Bagaimana anak yang bernama Loser justru sukses di kepolisian dan anak yang bernama Winner justru memiliki catatan kriminal yang sangat panjang. Selain itu bab ini juga bercerita tentang nama-nama yang paling mencerminkan orang kulit hitam atau orang kulit putih, peringkat nama dikalangan orang kulit hitam atau orang kulit putih, dan pengaruh dari sebuah nama yang lain.
Secara umum bab ini memuat beberapa konsep dasar ekonomi, diantaranya adalah: Pertama, Kelangkaan Relatif (Relative Scarcity). Mengapa suatu nama yang jarang digunakan dapat berubah menjadi suatu nama yang sangat umum. Kedua, masalah insentif, bagaimana orang-orang dikalangan ekonomi bawah cenderung memilih nama dari kalangan diatasnya dengan harapan anaknya menjadi lebih baik. Ketiga, korelasi dan penyebab, bagaimana nama mencerminkan kedudukan sosial pada suatu waktu akan tetapi diwaktu kemudian nama itu mengalami penurunan status sosial yang disebabkan orang dari kalangan atas memilih nama yang tidak umum.
Thats All Folks
Itulah uraian singkat dari Freakonomics. Sekali lagi inti dari Freakonomics yaitu insentif adalah landasan kehidupan modern, keyakinan Umum (conventional wisdom) sering salah, efek dramatis sering mempunyai sasaran-sasaran yang jauh, bahkan tidak terlihat, para pakar menggunakan kelebihan informasi mereka untuk membantu agenda mereka sendiri, dengan mengetahui apa yang harus diukur dan bagaimana mengukurnya bisa membuat dunia yang kompleks menjadi tidak atau kurang kompleks.
Bagaimana uraian singkat diatas?? Tidak lengkap??? Pasti!!! Namanya juga uraian singkat. Kalo terlalu lengkap dan jelas nanti malah males baca bukunya lagi
Tapi yakin deh kalo Freakonomics ini memang menarik meskipun memiliki suatu kekurangan dalam penyajian pelegalan aborsi. Seperti yang dikatakan di Media Indonesia jika Forrest Gump dapat membaca Freakonomics maka adagiumnya akan menjadi Life is like a box of chocolate. You never know what you’re gonna get. And… Freakonomics is also like a box of chocolate… Freakonomics memang benar-benar nikmat karena menawarkan ‘coklat’ dengan enam rasa yang nikmat….
November 6th, 2006 at 6:17 pm
Pasti dah baca The Confession of the Economic Hit Man -nya John Perkins, 2004. Bagus.