Dalam Mihrab Cinta: A Critical Review
Gw beli novelet ini sekitar 2 minggu lalu bareng sama beli Edensornya Andrea Hirata. Harapan gw waktu beli, gw akan dapet novelet pembangun jiwa yang memikat, penuh romansa dan memiliki unsur religi yang menarik seperti novel-novel kang abik sebelumnya seperti Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Diatas Sajadah Cinta dan lain-lain. Akan tetapi sayang harapan gw jauh panggang dari api meskipun novelet ini masih termasuk novelet pembangun jiwa yang baik. Apakah hal ini disebabkan gw yang menaruh harapan terlalu tinggi terhadap novel ini atau karena memang novelet ini terlalu biasa untuk pengarang sekelas Habiburrahman El Shirazy. Gw sendiri nggak ngerti, biar lo yang jg udah pernah baca novelet ini aja deh yang nilai… Tapi meskipun begitu gw tetap akan membuat review tentang novel ini, yang mudah-mudahan beberapa point yang gw utarakan disini dapat menjadi sebuah kritik yang membangun untuk kebaikan kedepannya.
Gw akan mulai dari kisah pertama dalam novelet ini yang berjudul Takbir Cinta Zahrana. Tema yang diangkat dalam cerita ini menurut gw cukup Down To Earth. Bisa dikatakan kisah yang terdapat dalam cerita ini merupakan kisah yang paling memikat dibandingkan dengan 2 kisah lain dalam novelet ini. Dikisahkan seorang dosen wanita bernama Zahrana yang kesulitan mendapatkan jodoh setelah berusia diatas 30 tahun karena terlalu mementingkan karier akademiknya meskipun ia tergolong wanita yang cantik. Ini adalah tema yang sangat membumi sekali. Kejadian seperti yang dialami Zahrana sering gw temukan ketika gw masih ngajar di kampus dulu. Tidak sedikit dosen yang telat menikah karena terlalu sibuk mengejar prestasi akademik. Dan hal seperti ini juga gw temui dalam kehidupan kerja gw sekarang, Tidak sedikit juga gw jumpai teman wanita yang hingga usia diatas 30 tahun kesulitan menemukan pendamping hidup karena sibuk menggapai karier bisnisnya. Banyak diantara mereka yang kemudian menjadi canggung dengan pria karena sudah terlanjur ‘menikmati’ kesendiriannya meskipun tidak jarang yang ‘menderita’ karena kesendiriannya… Kembali ke cerita diatas, dalam cerita Takbir Cinta Zahrana ini Kang Abik menunjukkan kelasnya sebagai penulis novel pembangun jiwa yang handal. Alur dan ending cerita dalam kisah ini memang sangat unik dan menarik.
Kisah kedua dalam novelet ini berjudul Dalam Mihrab Cinta yang merupakan petikan untuk Novel Dalam Mihrab Cinta, dikisahkan Syamsul seorang pemuda pesantren di Jawa Tengah yang sempat difitnah sebagai pencuri hingga dianiaya dan dikeluarkan dari pesantren, diabaikan oleh keluarganya dan sempat pula menjadi pencuri beneran, karena terdesak kebutuhan hidup berhasil merubah hidupnya kearah yang lebih baik. Dan layaknya sebuah petikan, akhir dari kisah ini dibiarkan menggantung dengan tujuan menarik perhatian pembaca. Meskipun tujuannya baik akan tetapi ada yang mengganjal di pikiran gw ketika selesai membaca kisah ini. Jujur gw agak kecewa karena gw seakan-akan ‘dibohongi’ dengan gantungnya kisah ini. Karena kisah ini ternyata hanya petikan dan bukan kisah utama dalam novel ini. Yang membuat gw heran adalah jika kisah ini hanyalah sebuah petikan, kenapa Kang Abik tidak menggunakan judul Mutiara Cinta yang jelas-jelas memiliki jumlah halaman lebih banyak. Dan mengapa pula petikan ini tidak diletakkan diakhir novelet seperti yang umum terjadi…
Dan terakhir, kisah ketiga yang berjudul Mutiara Cinta menurut gw seharusnya jadi judul novelet ini. Dikisahkan Zul, seorang pemuda miskin yang memutuskan merantau ke Malaysia dengan modal uang tidak seberapa, sebuah no telp yang telah direkomendasikan sebelumnya, serta modalnya yang paling besar yaitu NEKAT.. Dikisahkan Zul yang bermodal nekat kemudian melanjutkan S2 di Malaysia. Dengan modal yang tidak seberapa tidak mudah bagi zul untuk fokus 100% ke kuliahnya karena Zul juga harus bekerja di beberapa tempat untuk memenuhi kebutuhannya. Selain itu dalam kisah ini juga dikisahkan kisah cinta Zul dengan Mari, seorang wanita yang baru dikenalnya di Malaysia. Secara keseluruhan alur cerita dan ending dari kisah ini standar banget. Nyaris nggak ada kejutan berarti dalam kisah ini. Semua berjalan standar dan mudah ditebak. Selain itu, dalam kisah ini juga terdapat hal yang janggal dan mengganggu dalam penggambaran usia. Dikisahkan di awal-awal cerita saat zul baru datang, Mari telah berusia 27 tahun dan Zul ia perkirakan tidak lebih dari 22 tahun. Akan tetapi diakhir cerita, setelah 2-3 tahun tinggal di Malaysia dan ditanya Pak Muslim, Zul mengatakan kalau umurnya 30 tahun dan umur Mari, kata Pak Muslim, 2 tahun lebih muda dari Zul. Hal ini sungguh janggal dan bertolak belakang dengan statement saat Zul baru datang di Malaysia. Gw sendiri nggak tau dari mana agka-angka diatas muncul. Yang jelas kerancuan umur diatas cukup membingungkan gw sebagai pembaca…
Okai, sekian aja review dari gw. Semoga bisa dijadikan kritik yang membangun untuk kebaikan…
January 7th, 2008 at 6:47 pm
yups ni kisah gw baget
February 29th, 2008 at 2:32 am
Ga sbrn nunggu DMC yg ke-2..
March 25th, 2008 at 3:07 am
wah klu gak keberatan temen-temen yang dimana aja kirim dong review ceritanya ke email Re_HMI@yahoo.com
December 16th, 2008 at 6:50 am
Funny foto here