Glonggong, Sebuah Novel Yang ‘Menelanjangi….’

Buku_gelonggong_1
Awalnya saya sempat ragu untuk membeli novel ini, karena saya sempat berpikir akan disuguhi oleh kisah pendekar silat yang sakti sepert Wiro Sableng dan sejenisnya. Akan tetapi karena tidak tahan dengan
godaan
disampul buku ini yang menyatakan bahwa buku ini telah memenangi sayembara
menulis novel 2006, maka
saya memutuskan membeli buku ini karena  yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Dan ternyata
keputusan saya untuk membeli novel ini tidaklah salah, novel karya Junaedi Setiyono ini memang sarat makna. Sebuah novel anti-heroes yang bertokohkan rakyat biasa yang dipanggil Glonggong…

 

Novel ini berkisah tentang kehidupan seorang
pemuda pemuda yang benama Danukusuma yang dipanggil dengan sebutan Glonggong
karena kemahirannya memainkan Glonggong (senjata mainan yang terbuat dari
tangkai pepaya). Panggilan ini dilekatkan padanya setelah ia bermain Glonggong
dengan Suta, sahabat karib yang pernah mengajarinya bermain Glonggong. Ketika
ia jatuh terjerembab ditanah, seorang ’satria berkuda’ menariknya untuk bangun.
‘Satria berkuda’ yang bernama Pangeran Aria Dipanegara (kita mungkin
mengenalnya dengan Pangeran Diponegoro) kemudian menyapanya dengan panggilan
Glonggong. Sejak itulah orang lebih mengenalnya sebagai Glonggong.

 

Glonggong terlahir sebagai keturunan ningrat,
akan tetapi garis hidupnya tidak seperti teman-temannya yang juga berdarah
biru. Ia tidak pernah mengenal ayah kandungnya, Kiai Sena, yang menghilang
ketika terjadi peristiwa pemberontakan yang gagal yang dipimpin oleh Raden
Rangga Prawidirja pada tahun 1810. Setelah ayahnya ‘menghilang’, kedua kakak
Glonggong kemudian dititipkan kepada kerabat dekat ibunya, akibatnya Glonggong
juga tidak mengenal kedua kakaknya karena ia tinggal bersama ibunya. Sedangkan
Ibunya, Raden Ayu Wahyuningsih, kemudian menikah lagi dengan seorang priyayi
yang benama Raden Suwanda. Meskipun telah menikah lagi, akan tetapi kehidupan
Glonggong dan Ibunya tidaklah bahagia. Ibunya lebih banyak mengurung diri di
kamar sambil menembangkan macapat, sedangkan ayah tirinya, Raden Suwanda, tidak
begitu peduli dengan keadaan tersebut karena sibuk dengan kehidupan priyayinya.

 

Hidup tanpa perhatian dari keluarganya tidak
membuat Glonggong menjadi minder bergaul dengan orang lainnya. Karena
kemahirannya memainkan Glonggong, ia pun sering diajak oleh teman-temannya untuk
bermain glonggong. Hari demi haripun dilaluinya dengan bermain Glonggong. Akan
tetapi kecerian masa kanak-kanak tersebut tidak lama dinikmati oleh Glonggong.
Ketika ayah tirinya akan mempersunting wanita lain, Glonggong dan ibunya
kemudian diusir dari rumah dan diasingkan ke tengah hutan. Setelah diusir,
waktu-waktu Glonggong kemudian disibukkan dengan merawat ibunya yang kondisinya
semakin memburuk. Cobaan yang dialami Glonggong tidak berhenti sampai
disitu, pada usia 17 tahun Glonggong
harus hidup sebatang kara setelah musibah terbakarnya rumah merenggut nyawa
ibunya.

 

Setelah ibunya meninggal, Glonggong kemudian
bekerja di Puri Pringgawinatan sebagai centeng yang disamarkan sebagai tukang
kebun. Karena kemahirannya dalam memainkan Glonggong, ia kemudian sering
diminta untuk mengawal priyayi keraton dalam bepergian. Sambil menemani para
priyayi tersebut, Glonggong juga terus mencari tahu keberadaan ayah kandungnya
dan juga keluarganya yang lain. Pekerjaan mengawal priyayi tersebut juga
membuatnya memahami bahwa para priyayi umumnya hidup dalam kemewahan harta,
tahta, dan wanita yang memabukkan kehidupan mereka.

 

Karena ketangkasannya juga, Glonggong pun
akhirnya bergabung dengan barisan pasukan Pangeran Diponegoro yang sedang
berjuang melawan Belanda sebagai pembawa barang, suatu tugas yang ternyata
pernah diemban ayahnya sebelum meninggal. Kisahpun kemudian berlanjut dalam
plot yang memikat hingga akhir. Glonggong kemudian harus menghadapi kenyataan
akan betapa liciknya orang yang haus akan kekuasaan. Permainan dan intrik yang
dijalankan orang yang haus kekuasaan dan opportunis tersebut membuat Glonggong
kesulitan untuk membedakan siapa kawan dan lawan sejati. Berkali-kali Glonggong
harus berhadapan dengan lawan yang selama ini menjadi temannya yang atas dasar
kepentingan tertentu membuat temannya tersebut berubah.

 

Setelah membaca novel ini, saya kemudian mencoba
memahami pesan-pesan yang dihendakkan oleh Junaedi Setiyono melalui novel ini.
Dalam sosok Glonggong, penulis ingin memberikan teladan tentang sosok yang
jujur, tulus, memiliki integritas, semangat belajar yang tinggi, hati yang
jernih, dan tidak pernah menyerah dengan keadaan yang sering tidak berpihak
padanya.

 

Melalui banyak sosok di sekitar Glonggong,
agaknya penulis sedang ‘menelanjangi’ kondisi masyarakat dan sosial politik
bangsa saat ini yang memprihatinkan. Hal ini dapat dilihat dalam penggambaran
suatu keadaan dimana seorang penjahat yang tertangkap
dapat dilepaskan dengan alasan melarikan diri bila bisa membayar uang kepada
penguasa serta melalui penggambaran
sosok seorang santri yang seharusnya
beakhlak baik malah bersifat serakah terhadap harta dan wanita, sosok seorang
kakak yang tega menjual adiknya sendiri, sosok kakak yang mencarikan pelacur
untuk adik iparnya, sosok para bangsawan yang silau oleh harta, tahta, dan
wanita, sosok tokoh oportunis yang lebih memilih keadaan yang lebih
menguntungkannya dan menghalalkan segala cara, dan sosok banyak tokoh lainnya
yang lebih memilih hidup nyaman daripada harus berjuang melawan ketidak adilan.

 

Meskipun tokoh Glonggong hanyalah fiksi dan
kisah Glonggong tidak bersinggungan secara langsung dengan kisah dan perang
Pangeran Diponegoro. Penulis juga tampaknya ingin memberikan gambaran
perjuangan Pangeran Diponegoro pada masa perang Jawa. Dalam perang besar yang
berlangsung selama 5 tahun (1825-1830) dan memakan korban jiwa dan biaya yang
sangat besar tersebut ternyata pangeran Diponegoro berjuang ’sendirian’ dan
ditinggalkan pembesar keraton yang lebih memilih hidup nyaman dalam jajahan
belanda. (Perang Jawa menghabiskan biaya 20 juta gulden dan memakan korban jiwa
sekitar 8000 jiwa orang eropa, 7000 jiwa orang jawa pribumi yang berada dipihak
belanda, dan 200.000 jiwa rakyat jawa. Dimana pada saat itu penduduk seluruh
hindia belanda diperkirakan hanya 7 juta jiwa)

 

Kisah yang terdapat dalam novel ini juga sangat
membumi dengan penggambaran karakter yang matang, plot yang menarik,
penyampaian pesan tanpa kesan menggurui, dan gaya bahasa yang sederhana tatapi
tetap tidak kehilangan makna meskipun terkadang kurang mendetail. Meskipun gaya
bahasanya cukup sederhana, akan tetapi munculnya beberapa istilah Jawa dan
Belanda ternyata cukup membuat orang yang tidak bisa berbahasa jawa dan belanda
seperti saya agak kerepotan karena harus mencontek glosari yang terletak
dibagian belakang buku ini untuk melihat makna dari bahasa tersebut. Adanya
glosari dibagian belakang buku tersebut memang cukup membantu, akan tetapi
mungkin akan lebih memudahkan pembaca kalau glosari tersebut terletak pada
catatan kaki buku ini.

 

Namun terlepas dari hal diatas, novel yang
dikategorikan sebagai novel historiografi perang diponegoro ini memang layak
untuk memenangkan penghargaan dewan kesenian jakarta dan layak untuk dikoleksi.

Leave a Reply