Samurai, Kastel Awan Burung Gereja

SamuraiPengetahuan bisa menghambat. Ketidaktahuan justru membebaskan. Tahu kapan untuk tahu dan kapan untuk tak tahu, ini sama pentingnya dengan pedang yang tajam. (Suzume-no-Kumo, 1434).

Kisah dalam novel ini dimulai dengan keputusan Genji no Kami Okumichi yang berasal dari Klan Okumichi, seorang bangsawan agung Akaoka, untuk menyambut kedatangan misionaris kristen Amerika yang terdiri dari pendeta Zephaniah Cromwell, Emily Gibson dan Matthew Stark di Teluk Edo, 1 Januari 1861. Kedatangan orang asing tersebut seperti yang telah diramalkan oleh leluhur Genji, bahwa suatu saat nanti Genji akan bercakap-cakap dengan orang asing dengan bahasa mereka dan salah satu dari orang asing itu akan menyelamatkan Genji. Klan Okumichi memang diberikan anugrah untuk dapat ‘melihat’ masa depan. Anugrah ini diwarisi kepada tiap generasi dan pada masa itu yang mewarisi bakat meramal tersebut adalah Genji sang bangsawan agung dan Lord Shigeru, paman Genji yang memiliki kemampuan berpedang setara dengan Musashi yang melegenda itu.

Genji sadar keputusannya menyambut kedatangan bukanlah keputusan yang lumrah pada saat itu, keputusan itu merupakan keputusan yang sangat beresiko ditengah sentimen anti asing yang sedang berkembang di Jepang. Apalagi tidak lama setelah para misionaris mendarat, kapal-kapal asing bersenjata menyerang pelabuhan Edo. Genji kemudian bersama pengikutnya dan beserta para misionaris mengungsi ke kastil awan burung gereja di Akaoka. Dan dalam perjalanannya ke Kastil Awan Burung Gereja terjadi berbagai macam konflik dan intrik mulai dari penghianatan Sohaku, kematian Shigeru, kejaran Kawakami, pernyataan Kawakami tentang nenek moyang Heiko yang membuat genji gusar, petualangan Genji dengan Emily, terungkapnya identitas lain dari Heiko yang ternyata juga seorang ninja, kesetiaan Samurai, dan berbagai intrik menarik lainnya hingga kisah dalam novel ini selesai.

Secara keseluruhan novel ini sangatlah menarik. Alur cerita yang melompat-lompat dan terpotong-potong dan kemudian membentuk suatu cerita yang utuh disajikan dengan sangat piawai oleh Takashi Matsuoka. Selain itu Matsuoka juga menggambarkan budaya bangsa jepang dimasa transisi masuknya peradaban barat yang sangat primordial dimana harga diri seseorang ada diatas segala-galanya (dimana seseorang dapat dibunuh hanya karena tidak sengaja menginjak bayangan Samurai dan keputusan genji menghabisi kaum Eta hanya karena harga diri) dengan sistem kasta yang sangat kuat, dimana perintah dan keputusan seorang bangsawan agung sudah seperti perintah dewa. Perbedaan budaya dan susut pandang yang saling berhadapan juga digambarkan dengan sangat imajinatif oleh Matsuoka, misalnya perbedaan sudut pandang yang terjadi pada saat itu misalnya sudut pandang mengenai wanita ketika menggambarkan tentang sosok Emily, dimana ia dipandang sebagai wanita yang menjijikan dengan tubuh yang besar di Jepang sedangkan di Amerika ia merupakan salah satu wanita tercantik. Matsuoka juga tidak lupa menyisipkan ‘cerita cinta’ didalam novelnya, diantaranya kisah roman antara Genji sang bangsawan agung dengan Emily sang misionaris dan Heiko sang Geisha tercantik. Akan tetapi romansa yang paling menyentuh justru terjadi bukan dalam kisah ketiga tokoh diatas, akan tetapi justru kisan romansa antara Hide dan Hanako lah yang menurut gw paling menyentuh, seperti yang tergambar di halaman 732-734, seperti yang tertuang dibawah ini:

Hanako memandang Hidé dari tandu tempatnya terbaring. Dia sangat bangga pada suaminya itu. Dalam setiap krisis, dia menjadi semakin dewasa, semakin berani, dan semakin terfokus. Bahkan, postur tubuhnya saat menunggang kuda sudah berubah. Dia benar-benar menjadi samurai sejati seperti yang dia tahu sejak dahulu. Yang kurang hanyalah dia tidak memiliki istri yang pantas untuk kedudukannya sekarang.

Hanako berkata, ”Aku membebaskanmu dari perkawinan kita,” dan memalingkan kepalanya. Tak ada air mata di matanya, dan dia mengontrol napasnya sehingga tidak terlihat dia sedang sedih.

Hidé berkata kepada Taro yang berkuda di sampingnya, ”Dia mengigau.”

Hanako berkata lagi, ”Aku tak lagi pantas menjadi istrimu.”

Taro berkata kepada Hidé, ”Ya, pasti mengigau. Bahkan prajurit terhebat pun kalau menderita luka parah kadang mengigau tak tentu arah setelahnya. Kurasa penyebabnya adalah kehilangan banyak darah dan terguncang.”

Hanako berkata, ”Kau butuh teman hidup yang tidak cacat, yang dapat berjalan di belakangmu tanpa membawa malu dan hinaan.”

Hidé dan Taro terus mengabaikannya. Hidé berkata, ”Kaulihat bagaimana dia melemparkan tubuhnya di depan tebasan pedang?”

”Hebat,” kata Taro. ”Aku biasanya hanya melihat aksi itu di drama kabuki, tak pernah di dunia nyata.”

”Setiap kali aku melihat lengan bajunya yang kosong,” kata Hidé, ”aku akan mengingat dengan penuh rasa terima kasih atas pengorbanan yang dia lakukan untuk menyelamatkan nyawaku.”

”Aku tak bisa memegang nampan,” kata Hanako, ”aku juga tak bisa lagi memegang teko teh dan botol sake dengan pantas. Siapa yang tahan dilayani orang cacat yang hanya punya satu tangan?”

”Untungnya dia masih punya tangan pedangnya,” kata Taro. ”Siapa tahu suatu saat kamu membutuhkannya lagi di sampingmu?”

”Benar,” kata Hide. ”Dan satu tangan lebih dari cukup untuk menggendong bayi ke susunya, atau memegang tangan anak saat dia belajar berjalan.”

Hanako tak dapat menahan dirinya lagi. Dia gemetar oleh emosi. Air mata cinta dan terima kasih mengalir daras dari matanya. Dia ingin berterima kasih kepada Hidé atas ketabahannya, tetapi kata-katanya tertelan sedu sedan.

Taro permisi dengan membungkuk dan memacu kudanya ke barisan belakang. Di sana, di antara mantan pengikut Mukai, dia juga menangis tanpa malu.

Untuk pertama kalinya, mata Hidé tetap kering. Dengan kontrol diri ketat yang dia pejalari dalam pertempuran, dia tak membiarkan setetes pun air matanya jatuh, dan tak ada sedan yang menggetarkan tubuhnya. Kesedihannya atas luka Hanako tak perlu dipertanyakan lagi, tetapi itu tak sebanding dengan rasa hormat yang dia rasakan terhadap keberanian istrinya yang menyerupai seorang samurai dan cintanya yang semakin tumbuh besar.

Kejamnya perang dan kegembiraan cinta. Keduanya sesungguhnya adalah satu.

Hidé duduk tegak di pelananya dan berkuda dengan penuh keyakinan menuju Edo.

Secara keseluruhan, novel ini memang sangatlah menarik dan sarat pengetahuan yang akan membuat kita penasaran terhadap sekuel dari novel ini yang berjudul Jembatan Musim Gugur. Two Thumbs Up buat Takashi Matsuoka…

Leave a Reply