HUBBU: Ketika Seorang Ahli Waris Pesantren Mengalami Pergeseran Budaya

Hubbu
Saya membeli novel
ini karena kisah di novel ini telah memenangkan lomba novel di Dewan
Kesenian Jakarta,9 Maret 2007. Awalnya saya agak ragu untuk membeli
novel ini, akan tetapi karena saya menyukai novel ‘Glonggong’
yang menjadi juara harapan pertama dalam lomba yang sama maka saya
pun memutuskan untuk membeli novel ini.

Penggalan Kisah

Novel ini dibuka
oleh sebuah prolog jaman prawayang yang diberi judul lontar lokapala.
Prolog ini berkisah tentang sebuah surat yang ditulis di daun lontar
oleh Danareja untuk ayahnya Wisrawa raja Lokapala. Danareja merasa
telah dipenggal kisah cintanya oleh ayahnya sendiri yang tega
menyetubuhi Dewi Sukesi, calon istri Danareja. Itu terjadi karena
Dewi Sukesi meminta Wisrawa membuka rahasia ilmu Sastra Gendra
sebagai syarat ia mau menjadi menantu. Akibat dari diuarnya ilmu
rahasia tersebut ternyata sangatlah fatal.

Kisah kemudian
beralih ke kehidupan Abdullah Satar, tokoh utama dalam novel ini yang
lebih dikenal dengan panggilan Jarot.  Jarot berasal dari keluarga
terpandang di desa Alas Abang. Dia adalah cucu dari Mbah Adnan,
seorang kyai pimpinan pesantren yang sangat terpandang di desa
tersebut. Jarot dikisahkan merupakan kandidat kuat sebagai pewaris
pesantren karena dianggap memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki
oleh keturunan Mbah Adnan yang lain.  Karena hal tersebut, jarot
kemudian diperlakukan secara khusus. Akan tetapi kemudian ia
memberontak dan memilih kehidupannya sendiri.

Tanpa sepengetahuan
keluarganya, Jarot secara diam-diam mempelajari tentang budaya jawa
dan dunia mistiknya kepada Wak Tomo ketika ia masih bersekolah.
Pemberontakan Jarot tidak berhenti sampai disitu, setelah lulus
sekolah pun Jarot kembali memilih kehidupannya sendiri dengan
meninggalkan desa Alas Abang dan pergi jauh ke Surabaya untuk kuliah
di Universitas Airlangga. 

Dimasa kuliah ini
Jarot kemudian sering mengalami konflik psikologis dan gagap atas
kultur kehidupan kota. Jarot yang sedari kecil sudah terbiasa dengan
kehidupan yang mengedepankan akhlak dihadapkan pada suatu kultur yang
mengedepankan kehidupan bebas yang sangat bertolak belakang  dengan
latar belakangnya. Pada awalnya Jarot berusaha membentengi dirinya,
akan tetapi seiring dengan waktu akhirnya benteng tersebut pun
runtuh, Jarot pun kemudian mulai terbiasa dengan minuman keras.
Setelah terbiasa dengan minuman keras, Jarot yang awalnya juga
membentengi dirinya dari seks bebas akhirnya terjerumus juga manakala
ia mendapati dirinya berada satu ranjang dengan Agnes dalam keadaan
tidak berpakaian.

Perasaan bersalah
kemudian menghinggapi Jarot, ia merasa telah menghianati keluarganya
dan tak layak lagi untuk mewarisi kepemimpinan pesantren di Alas
Abang. Perasaan bersalah tersebut semakin lama semakin
menggerogotinya, hingga ia pun akhirnya bertindak ekstrem dengan
memenggal kehidupannya di masa lalu, baik itu di Surabaya maupun Alas
Abang. Jarot kemudian mengasingkan diri ke Ambon bersama
Agnes,sebagai satu ikrar penebusan dosa. Ia ingin memulai hidup baru
dengan beban keterpurukan jiwa yang hebat.

Kisah kemudian
beralih ke tahun 2040 dengan Aida, anak Jarot, sebagai tokoh
utamanya. Aida yang ingin mengetahui tentang kehidupan masa lalu
ayahnya kemudian memutuskan menelesuri masa lalu ayahnya dengan pergi
ke Surabaya dan Alas Abang saat liburan semester. Usaha Aida pun
tidak sia-sia, ia pun kemudian berhadapan dengan  kenyataan kisah
masa lalu ayahnya yang penuh dengan konflik batin.

Umpan Balik

Itulah kira-kira
penggalan kisah dalam novel Hubbu. Hubbu sendiri berasal dari bahasa
arab yang artinya cinta. Terus terang saya tidak begitu mengerti
mengapa novel ini diberi judul Hubbu, karena menurut saya novel ini
bukan bercerita tentang cinta akan tetapi tentang konflik batin dan
pergeseran budaya.

Harus diakui kalau
novel ini kaya akan plot, setting dan memiliki cara bertutur yang
penuh warna. Meskipun hal tersebut sering membuat bingung pembaca
novel yang awam seperti saya.. :(

Kehidupan Aida yang
hidup ditahun 2040 juga terkesan janggal. Cara penulis menggambarkan
Alas Abang, Surabaya, dan Ambon serta perangkat teknologi yang
digunakan tidak terkesan kalau zaman sudah melompat jauh 33 tahun
kedepan dari sekarang. Karena suasana yang digambarkan tidak berbeda
dengan kehidupan sekarang, sehingga tahun 2040 terkesan sebagai suatu
setting waktu yang dipaksakan.

Akan tetapi harus
diakui kalau novel ini memang memiliki warna. Banyak yang menganggap
kalau novel ini sejajar dengan Saman karya Ayu Utami. Harus saya akui
kalau novel ini memang memiliki gaya penuturan yang mirip dengan
Saman. Terutama dalam hal romantisme erotis yang menelusuri hubungan
antara kasih dan birahi.

Dan akhirnya,
meskipun novel ini berhasil menjadi juara pertama dalam lomba menulis
novel 2006 yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta, secara jujur harus
saya akui kalau saya termasuk orang yang tidak dapat merasakan
kepuasan ketika membaca novel ini. Suatu perasaan yang sama seperti
ketika saya membaca Saman. Hmm… Mungkin saya memang tidak cocok
dengan gaya penulisan novel yang seperti ini… Entahlah…

Leave a Reply