Kasih Sayang Ibu Dalam Daniel Isn’t Talking

Daniel_isnt_talking
Kasih
ibu kepada beta | Tak terhingga sepanjang masa | Hanya memberi tak
harap kembali | Bagai sang surya menyinari dunia….

Jujur
saja, saya teringat dengan lagu diatas ketika membaca Daniel Isn’t
Talking karya Marti Leimbach. Buku yang menurut saya benar-benar
menarik untuk dibaca.

Dikisahkan
Melanie Marsh dan Stephen adalah pasangan yang hidup secara normal
dan memiliki 2 anak yang lucu. Anak tertua mereka bernama Emily yang
merupakan anak yang cerdas, kreatif, dan aktif. Anak terkecil mereka
bernama Daniel yang merupakan anak yang pendiam dan tidak banyak
bicara. Hidup mereka berjalan dengan normal layaknya kehidupan
keluarga pada umumnya.

Akan
tetapi ketika Daniel berumur 3 tahun masalah kemudian muncul. Anak
laki-laki mereka ternyata masih belum bisa bicara!! Suatu hal yang
tidak normal untuk anak seumur Daniel… Stephen dan Melanie awalnya
hanya mengira masalah ini hanyalah masalah ’keterlambatan
berbicara’ saja. Akan tetapi ternyata dugaan mereka salah, Daniel
memiliki masalah yang lebih serius daripada ’keterlambatan
berbicara’, Daniel ternyata menderita Autis!!

Penyakit
yang diderita Daniel ini membuat rumah tangga orang tuanya menjadi
bergejolak. Mereka menjadi sering cek-cok karena berbeda pendapat.
Sang ayah, Stephen, meyakini kalau Daniel harus disekolahkan di
’sekolah khusus’, sementara sang ibu, Melanie, meyakini kalau
Daniel tidak perlu ke’sekolah khusus’ dengan alasan ’sekolah
khusus’ tidak dapat mengajarkan Daniel menjadi anak ’normal’
karena Daniel hanya akan bermain dengan sesama anak autis di sekolah
tersebut. Melanie berkeyakinan kalau Daniel bisa disembuhkan tanpa
perlu pergi ke ’sekolah khusus’.

Perbedaan
ini membuat perkawinan mereka terancam bubar. Stephen yang berkeras
untuk menyekolahkan Daniel ke ’sekolah khusus’ semakin jarang
pulang kerumah karena tidak tahan melihat tingkah laku Daniel, hingga
akhirnya ia kembali ke pelukan mantan pacarnya. Sedangkan Melanie
mempertahankan untuk tidak menyekolahkan Daniel ke ’sekolah
khusus’, agar kelak Daniel dapat menjadi anak yang normal. Ia
melakukan segalanya agar Daniel bisa menjadi anak normal, mulai dari
mencari info tentang autis hingga menjual harta yang dimilikinya
untuk kesembuhan Daniel karena Stephen sudah tidak mengirimi uang ke
rekeningnya.

Melanie
sudah mencoba membawa Daniel ke berbagai ahli Autis, akan tetapi
ternyata hasilnya masih jauh dari harapan, hingga akhirnya ia bertemu
dengan Andy O’ Connor, yang dikenal sebagai ahli terapi autis untuk
anak-anak. Beberapa orang mencoba menyakinkan Melanie, kalau Andy
hanyalah penipu ulung yang bayarannya mahal dan tidak memiliki
kompetensi. Akan tetapi Melanie meyakini kalau Andy adalah sosok yang
tepat.

Andy
kemudian mendidik Daniel di rumah dan menerapkan metode ABA (
Applied
Behavioral Analysis
)
dengan mengajak Daniel bermain dan dengan sabar mulai mengajari
Daniel. Andy ternyata sosok yang benar-benar dapat diandalkan
Melanie. Ia bukan hanya berhasil membuat Daniel mengalami kemajuan
linguistik akan tetapi ia juga berhasil membangkitkan Melanie dari
keputus-asaan. Simak bagaimana Andy mencoba membuat Melanie agar
tetap tegar dalam kalimat ini:

"You’re
an autism mum. I see them all the time. I saw you that first day we
met, how you agonised over your boy, mute in his pushchair while all
the other pre-schoolers made their clever observations about the
world; I see how you worry now over his odd way of walking, the
animal noises he will sometimes make instead of words. And I see how
no amount of pain in the experience of caring for your son will put
to death the fire of love you have for him."

Dalam
buku ini, anda akan melihat pengorbanan tulus seorang ibu untuk
anaknya.
Ia
akan melakukan apa saja untuk kesembuhan anaknya. Saya yakin anda
akan tersentuh dan terharu membaca perjuangan yang dilakukan Melanie
untuk Daniel yang mungkin juga akan mengingatkan anda betapa orang
tua anda telah melakukan yang terbaik yang bisa mereka lakukan untuk
anda.

Buku
ini
juga
memberikan gambaran yang menarik mengenai Autis. Kita diajak untuk
memahami seluk beluk Autis, bagaimana cara menghadapinya dan
menanganinya. Dan meskipun penyakit ini tidak bisa disembuhkan akan
tetapi kita tetap dapat membuat penderita Autis menjadi seperti anak
normal karena meskipun mereka ’memiliki dunia sendiri’ mereka
juga manusia yang perlu dihargai dan diperlakukan secara normal.

Jika
kita membaca biografi Marti Leimbach, mungkin kita akan mereka-reka
kalau sebagian cerita dari Daniel Isn’t Talking diilhami dari
kehidupan pribadinya. Karena putra dari Marti Leimbach yang bernama
Nicholas juga didiagnosa menderita Autis seperti Daniel.

Dan
terakhir, b
uku
ini benar-benar menyajikan kisah menggugah, realistis, dan sangat
menarik untuk dibaca. Benar-benar buku yang layak untuk dikoleksi…

*Klik disini jika anda ingin melihat chapter pertama dari Daniel Isn’t Talking. Jika anda ingin membaca cerita lain mengenai anak autis dalam bentuk cerpen yang sangat menggugah, anda dapat mengklik link ini

2 Responses to “Kasih Sayang Ibu Dalam Daniel Isn’t Talking”

  1. - Wilda - Says:

    kayanya ini buku terjemahan yaa?? tertarik pengen beli..

  2. -Havid- Says:

    Saya baca yang versi inggrisnya mba wilda…
    Tapi kemarin saya lihat di Gramedia, versi terjemahannya juga sudah terbit…

Leave a Reply