Freedom Writer, Kisah tentang manusia biasa yang cukup inspiratif

Freedom_writers
Secara
tidak saya sadari, saya ternyata pernah mengutip tulisan mengenai
tokoh wanita dalam film yang akan saya tulis reviewnya  dalam blog
ini
. Kisah dalam film ini sendiri dimulai ketika Erin Gruwell memulai
karirnya sebagai guru di Wilson High School, Long Beach
California
. Sebagai seorang fresh graduate, Erin sangatlah
antusias ketika akan memulai karirnya sebagai guru di sekolah
tersebut. Akan tetapi ketika ia benar-benar memulai mengajar di kelas
203, ia sempat terkejut dengan keadaan kelasnya. Ternyata kelasnya
adalah tempat berkumpulnya ‘orang-orang buangan’.

 

Murid-muridnya
dikelas ini sudah terbiasa hidup dalam kelompoknya masing-masing,
memiliki latar belakang yang bermacam-macam dan rentan terhadap
kekerasan. Mereka sudah terbiasa terlibat dalam pertikaian antar geng
dan tidak sedikit  dari mereka yang selalu menyimpan pistol dalam
pinggang mereka karena merasa kalau hidup mereka tidak aman.

Awalnya
Erin mencoba mengajar dengan menggunakan metode kurikulum
‘konvensional’. Akan tetapi karena murid-murid yang dihadapi Erin
bukanlah murid seperti pada umumnya, maka cara konvensional tersebut
seperti menemui jalan buntu. Akan tetapi Erin tidak berhenti sampai
disitu, sadar kalau cara konvensional tidak akan berhasil diterapkan
dikelasnya, Erin pun mulai mencoba berbagai kurikulum alternatif
ciptaannya sendiri. Ia memulainya dengan mencoba mengajarkan puisi
dengan menggunakan lagu Tupac Shakur, akan tetapi sayang, usaha
alternatifnya ternyata belum cukup berhasil.

Akan
tetapi Erin, tidak pernah menyerah dan selalu mencari cara baru.
Hingga akhirnya ia menemukan suatu permainan yang disebut permainan
garis (line games) dengan menarik sebuah
garis merah di lantai, membagi mereka dalam dua kelompok
kiri
dan kanan. Kalau menjawab
ya
mereka harus mendekati garis. Dimulai dengan beberapa pertanyaan
ringan, dari album musik kesayangan, sampai keanggotaan geng,
kepemilikan narkoba, dan pernah dipenjara atau ada teman yang mati
akibat kekerasan antargeng.
Dalam permainan ini, Erin ternyata
berhasil membuat murid-muridnya merasa kalau mereka ternyata memiliki
kesamaan nasib.

Selanjutnya
Erin menghadiahi murid-muridnya sebuah buku yang diberi judul ‘Anne
Frank: The Diary of a Young Girl’
yang merupakan saksi sejarah dari
kekejaman Nazi. Erin juga tidak lupa mewanti-wanti muridnya kalau
rasialisme lah yang sering memicu tragedi kemanusiaan. Selanjutnya
dalam kesempatan lain, Erin juga memberikan buku kosong kepada
murid-muridnya yang dapat digunakan untuk menuliskan semua keluh
kesah mereka yang mereka alami dan rasakan. Erin akan memeriksa dan
memastikan mereka benar-benar menulis setiap harinya, akan tetapi ia
tidak akan membacanya kecuali jika diijinkan oleh murid-muridnya.
Untuk itu disediakanlah sebuah lemari kosong kepada mereka, jika
mereka mengijinkan Erin untuk membaca buku hariannya.

Awalnya
Erin tidak begitu menyangka kalau murid-muridnya akan antusias dalam
menerima ‘tugas’ menulis buku harian yang ia berikan. Akan tetapi
alangkah terkejutnya Erin, ketika pada suatu hari ia mendapatkan
lemari kosong yang disediakannya penuh dengan buku catatan harian
murid-muridnya. Erin kemudian mulai membaca catatan harian
murid-muridnya dan mulai memahami latar belakang setiap
murid-muridnya. Dan para murid Erin semakin terinspirasi, semakin
terbuka, dan semakin bisa menerima keberadaan teman-teman mereka.
Mereka merasa menemukan ‘keluarga’ baru dalam hidup mereka.
Mereka pun berubah menjadi lebih baik lagi dan mulai menjadi agen
perubahan terhadap lingkungan mereka.

Tulisan
mereka kemudian disatukan dalam sebuah buku dan diberi judul ‘The
Freedom Writer Diary
’ pada tahun 1999 dan memberikan inspirasi ke
banyak orang. Beberapa tahun kemudian, FreedomWriters menjadi sebuah
organisasi untuk mengembangkan metode pengajaran dan pendidikan untuk
semua golongan.


Sebagai
seorang ‘tokoh’ pendidikan, Erin Gruwell sungguhlah inspiratif.
Ia tidak menyerah kepada keadaan dan selalu berpikir ‘out of the
box
’ dengan menerapkan berbagai macam alternatif untuk keberhasilan
anak didiknya. Meskipun untuk itu ia harus dilecehkan oleh teman
sesama pengajar, bekerja paruh waktu, dan tidak mendapatkan dukungan
dari sekolahnya. Akan tetapi ia tetap maju karena meyakini kalau apa
yang ia lakukan adalah yang terbaik untuk murid-muridnya.

Akan
tetapi, Erin tetaplah manusia biasa yang tak luput dari kekurangan.
Yang karena kesibukannya menyebabkan ia harus mengorbankan mahligai
pernikahannya dengan suaminya yang tidak tahan karena harus ditinggal
Erin sepanjang waktu. Jujur saja, sebagai manusia yang mengedepankan
keseimbangan, gambaran dari retaknya mahligai rumah tangga Erin
menurut saya adalah suatu hal yang sangat disayangkan.

Meskipun
begitu, secara keseluruhan film ini sangat bagus dan inspiratif. Film
ini mengajarkan kita untuk selalu optimis dan jangan pernah menyerah
dengan keadaan. Film ini ini juga mengajarkan untuk meyakini kalau
perbuatan baik kita akan memberikan inspirasi bagi orang lain dan
masa-masa sulit adalah awal dari suatu yang indah jika kita tidak
menyerah. Seperti yang dikatakan Kartini…’Habis Gelap Terbitlah
Terang’ atau seperti kata salah satu tokoh yang dikisahkan dalam
film ini Anne Frank ‘Penderitaan dan luka ada di mana-mana; namun
demikian pun harapan, juga ada di mana-mana’…

2 Responses to “Freedom Writer, Kisah tentang manusia biasa yang cukup inspiratif”

  1. ReemWaddy Says:

    hi there!
    I made on photoshop glitter myspace banners.
    take a look at them:
    http://tinyurl.com/5wmgpn
    Thank you for your site :-) xxoxo

  2. Plobialig Says:

    Hey your website is nice
    I have a new band and we just had a live gig you can see here:
    http://tinyurl.com/8w2esc

Leave a Reply